Perjalanan dari Pekanbaru ke Melaka

Sebelumnya saya pernah pergi ke Melaka lewat jalur laut dengan menggunakan ferry dari Pelabuhan Dumai. Saat itu saya masih tinggal di Duri, sebuah kecamatan di Riau yang letaknya dekat dengan Dumai. Setelah pindah ke Pekanbaru dan memang ada penerbangan langsung Pekanbaru-Melaka 2x sehari (dilayani 2 maskapai, yaitu Xpress Air dan Malindo Air), akhirnya saya mencoba ke Melaka dengan jalur udara.

IMG_9787
Here I come, Melaka!

Perjalanan kali ini saya mengambil penerbangan dengan Malindo Air yang menggunakan armada pesawat baling-baling ATR 72-600. Ini jadi pengalaman perdana juga untuk saya untuk mencoba naik pesawat mesin baling-baling, dari dulu tidak kesampaian terus karena alasan takut. Setelah dicoba, ternyata rasanya hampir tidak ada bedanya hanya saat take off saja getarannya lebih mengguncang.

IMG_9788
Perdana naik pesawat ATR

Kapasitas penumpang pesawat ATR ini ternyata hanya cukup untuk 72 orang dan penumpang pun masuk hanya dari pintu belakang pesawat. Untuk naik ke pesawat ATR ini pun tidak dilayani dengan fasilitas garbarata. Selain karena penumpang hanya masuk di pintu belakang, juga karena tinggi badan pesawat yang lebih rendah dari pesawat jet.

IMG_9789
Bagian dalam pesawat.. Isinya orang-orang berobat..

Saat itu kondisi pesawat tidak penuh, bisa dibilang tergolong sepi. Kebanyakan penumpang adalah orang-orang tua yang mau berobat ke Mahkota Medical Centre, Melaka.

Kira-kira dalam waktu 40 menit saja, waktu untuk mendarat tiba. Dari atas pesawat tampak aerial view Melaka yang luar biasa rapi, bersih dan terlihat pembangunan di sana-sini. Setelah keluar pesawat, saya baru tahu kalau bandara Melaka ini kecil sekali ukurannya, mungkin seukuran dengan bandara kabupaten di Indonesia. Penerbangan internasional hanya melayani rute dari/ke Pekanbaru sedangkan penerbangan domestik hanya melayani rute dari/ke Penang.

IMG_9793
Mendarat di Bandara Melaka
IMG_9792
Bandara Melaka

Setelah keluar dari antrian imigrasi, saya awalnya berniat untuk naik Bus Panorama Melaka nomor 1A dari bandara ke Melaka Sentral. Tapi karena durasi keberangkatan antar busnya agak lama, sekitar 1,5 jam dan suasana bandara yang super sepi, akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi saja. Tarif taksi ke pusat kota, kawasan Jonker Street misalnya dipatok 35 RM saat itu. Mereka tidak pakai sistem argo dan bilang harga tersebut sudah biasa, tidak bisa kurang. Karena tidak ingin banyak membuang waktu, saya iyakan saja tawaran si bapak taksi.

IMG_9790
Taksi bandara Melaka tidak menggunakan argo

Sopir saat itu namanya Pak Ramli. Beliau ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia. Sepanjang jalan beliau cerita tentang pengalamannya di Indonesia mulai dari Medan, Jakarta, Bandung sampai Lombok. Sepanjang jalan dari bandara ke pusat kota, terlihat bagaimana rapi dan teraturnya Melaka.

Saya perhatikan hampir di tiap negeri bagian Malaysia selalu ada UTC alias Urban Transformation Centre atau Pusat Transformasi Bandar. UTC diusung oleh Pemerintah Malaysia sebagai pusat pengurusan administrasi  satu atap di kota-kota besar sehingga menghemat biaya dan waktu masyarakat. Satu hal yang patut dicontoh untuk kota-kota besar di Indonesia.

IMG_9791
UTC Melaka

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 20 menit, akhirnya saya tiba di hostel yang sudah saya pesan online dari jauh-jauh hari. Nama hostelnya adalah Ringo’s Foyer Guest House. Harga per malamnya cukup 110 ribu rupiah dan saya menginap 2 malam kala itu. Tampak dari luar hostel ini hanya 1 pintu kecil saja yang menyambung ke tangga akses menuju lantai 2 dimana lobby dan kamar berada. Karena konsepnya seperti berada di rumah, diwajibkan melepas sepatu terlebih dahulu dan meletakannya di pinggiran anak tangga.

IMG_9779IMG_9784

Saat check in, penjaga hostel ini ternyata orang-orang bule. Dengan ramahnya si mas-mas yang belakangan saya tahu orang Belanda ini mengantar saya ke seluruh sudut hostel. Dia memberikan kunci akses di dalam dan keluar-masuk hostel, loker, kamar mandi, teras di atas bangunan hostel, tempat sarapan, ruang tamu dan lain-lain. Kamar kapsul di hostel ini cukup nyaman, dilengkapi dengan soket listrik, lampu utama dan lampu baca.

IMG_9631
Kamar kapsul dan loker

Di hostel ini juga ada ruang tamu yang suasananya rumah banget. Di sini bisa baca-baca buku dan komik juga nonton TV sambil duduk-duduk atau tiduran. Agak heran juga banyak turis-turis yang kadang seharian nggak keluar hostel, hanya baca-baca buku atau tidur-tiduran di sini. Sepertinya sih mereka memang backpacker yang bisa sebulan dua bulan sekali jalan liburan, jadinya santai..

IMG_9780IMG_9777IMG_9778

Di lantai paling atas ada teras yang juga jadi tempat untuk sarapan pagi atau ngeteh/ngopi. Sarapan disediakan pukul 8 hingga 11 pagi sedangkan untuk teh dan kopi disediakan pukul 8 hingga 5 sore. Seperti kebanyakan hostel lain juga, di sini disediakan air minum (purified water) 24 jam.

IMG_9781IMG_9776

Sudah dapat hostel murah dan nyaman, waktunya saya mengeksplorasi Melaka. Catatan perjalanan dan destinasi menarik Melaka saya rangkum di 18 Keseruan yang Bisa Dilakukan di Melaka Bagian 1 dan Bagian 2.

Advertisements

One thought on “Perjalanan dari Pekanbaru ke Melaka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s