Cirebon Heritage

Liburan 17an tahun ini saya sengaja mampir ke Cirebon dengan berangkat dari Pekanbaru ke Bandung, dilanjut dengan naik shuttle car dari Pasteur. Agak niat sih memang ya. Tapi memang betulan sudah niat, pokoknya weekend getaway kali ini saya mau napak tilas sejarah Cirebon dan tentunya kulineran..

Cirebon tampak jauh berbeda dari kunjungan saya waktu SMA, 12 tahun yang lalu. Mall, hotel, pertokoan, restoran sudah mengisi hampir seluruh tepian jalan raya. Semenjak ada tol Cipali, perekonomian dan perkembangan kota Cirebon bisa dibilang meningkat pesat. Selain karena posisinya yang berdekatan dengan 3 kota besar (Jakarta, Bandung dan Semarang), Cirebon memang punya magnet wisata karena peninggalan-peninggalan sejarah dan kulinernya yang khas. Baca juga: Kuliner Khas Cirebon

Suasana sehari-hari di Kota Cirebon

Agenda saya ke Cirebon kali ini adalah menengok peninggalan bersejarah (heritage) yang ada di kota terasi ini, mulai dari keraton peninggalan era kesultanan hingga bangunan-bangunan Belanda di era kolonialisme.

1. Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan merupakan destinasi bersejarah di urutan pertama yang wajib dikunjungi saat berada ke Cirebon. Kenapa? Karena keraton ini merupakan yang terbesar, termegah dan paling terawat dibandingkan keraton-keraton lainnya di Cirebon. Usia keraton ini sudah hampir 500 tahun dan menjadi saksi kehidupan para pendiri Kesultanan di Cirebon. Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II yang merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai tokoh penyebaran agama Islam di Cirebon (bahkan di Jawa Barat).

Di bagian gerbang depan kompleks keraton terdapat jembatan kecil yang juga menjadi tempat pembayaran tiket masuk. Petugas keraton mengenakan baju-baju khas keraton Cirebon dan menyapa dengan ramah setiap pengunjung yang datang. Saya pun ditawari apakah ingin menggunakan jasa pemandu atau tidak. Karena hanya datang seorang diri, saya memilih tidak menggunakan pemandu. Lagi pula malam sebelumnya saya sudah membaca-baca tentang sejarah keraton ini. Di halaman depan keraton terdapat beberapa mande (semacam pendopo) yang dikelilingi tembok dari batu bata berwarna cokelat. Area ini dikenal dengan nama Siti Inggil.

Area Siti Inggil di halaman depan keraton

Di antara susunan batu bata cokelat terdapat beberapa (piring) keramik yang berasal dari Eropa dan Tiongkok. Menurut petugas di keraton, barang-barang ini merupakan pemberian dari negara-negara Eropa dan Tiongkok. Hal ini sekaligus menunjukkan hubungan perdagangan negara-negara tersebut dengan Kesultanan Cirebon yang sudah terjalin baik sejak era awal kesultanan.

IMG_0386[1]

Keramik dari Tiongkok dan Eropa

Setelah melewati area Siti Inggil, terdapat bangunan utama keraton dan beberapa bangunan pendukung lainnya. Selain itu, terdapat juga taman berbentuk lingkaran yang dikenal dengan nama Taman Dewandaru atau Bunderan Dewandaru. Di taman ini terdapat meriam, 2 patung macan putih, tanaman hias serta meja dan bangku.

IMG_0388[1]

Patung Macan Putih di Taman Dewandaru

Di kanan dan kiri (barat dan timur) Taman Dewandaru terdapat bangunan yang dahulunya merupakan Museum Benda Kuno dan Museum Kereta. Namun sekarang semua koleksi-koleksi tersebut sudah dikumpulkan dalam satu bangunan baru yang diberi nama Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Selain itu, di area ini juga terdapat bangunan terbuka tanpa tembok bernama Sri Manganti dan Lunjuk yang digunakan untuk keperluan acara kesultanan. Baca juga: Museum Keren nan Modern di Keraton Kasepuhan Cirebon

IMG_0387[1]

Ex-Museum Kereta

Tepat di belakang Taman Dewandaru, berdirilah bangunan utama atau bangunan induk Keraton Kasepuhan Cirebon. Bangunan ini paling menarik bagi saya dan pastinya setiap pengunjung keraton. Arsitektur bangunan dan berbagai  ornamen uniknya sangat memikat untuk dilihat lebih dekat. Di bagian depan sekali terdapat sebuah gapura bercat putih yang bernama Kutagara Wadasan. Di belakangnya merupakan Bangsal Keraton yang berlantai marmer dan memiliki 4 tiang penopang berwarna hijau. Ornamen-ornamen di lantai, dinding dan payung-payung keraton  tersusun dengan apik di sini.

DSCF1524

Kutagara Wadasan

DSCF1536

Bangsal Keraton

IMG_0396[1]

Payung di Bangsal Keraton

IMG_0390[1].JPG

Lampu di Bangsal Keraton

Lebih jauh lagi ke bagian belakang keraton, terdapat gapura yang disebut dengan Pintu Buk Bacem, terletak di sisi kanan dan kiri bangsal keraton. Di bagian belakang inilah terdapat tempat tinggal sultan dan keluarganya, dikenal dengan nama Pungkuran, Kaputran dan Kaputren. Di sini terdapat sebuah tempat untuk sholat yang bernama Langgar Alit (langgar dalam Bahasa Jawa berarti musholla atau tempat sholat/mengaji).

IMG_0393[1].JPG

Pintu Buk Bacem

DSCF1548

Kediaman Sultan dan keluarga – tampak samping

IMG_0392[1].JPG

Ukiran bunga di kusen pintu

Alamat: Jl. Kasepuhan No.43, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon 45114

Hari/Jam buka: Setiap hari/Jam 8 pagi sampai jam 6 sore

Harga tiket masuk: 15 ribu (dewasa)

 

2. Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Di sebelah Barat dari Keraton Kasepuhan, terdapat sebuah masjid bersejarah yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Saya awalnya agak ragu masuk ke dalam karena hari itu hari Jumat (Kliwon) sehingga banyak sekali masyarakat berbondong-bondong memadati masjid. Di Cirebon tampaknya budaya Kejawen memang cukup kental, beberapa orang terlihat mengambil air dari sebuah sumur/kolam yang mereka percayai air itu dapat memberikan karomah (semacam membawa kebaikan).

IMG_0385[1].JPG

Ukiran ayat Al-Quran

Bangunan masjid ini sendiri banyak ditopang oleh tiang-tiang kayu bercat cokelat. Sedangkan dindingnya tersusun dari batu bata. Beberapa ukiran ayat-ayat Al-Quran dan kaligrafi menghiasi interior masjid yang dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati ini. Masjid ini kabarnya juga merupakan masjid tertua yang ada di Cirebon. Sayangnya di pintu masuk masjid banyak sekali ibu-ibu peminta-minta dan di depan masjid sampah-sampah pun berserakan. Semoga saja pemerintah daerah Cirebon bisa menata lebih baik kawasan masjid dan keraton ini.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Alamat: Jl. Jagasatu, Kesepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon 45114

 

3. Keraton Kanoman

Keraton Kanoman merupakan keraton kedua terbesar di Cirebon dan berdiri pada tahun yang sama dengan berdirinya Keraton Kasepuhan. Saat itu saya menggunakan Gojek untuk menuju keraton ini. Dengan lihainya mamang Gojek bergerak menembus Pasar Kanoman yang hiruk-pikuk, dipenuhi kendaraan dan pedagang sayuran. Tampak hening bangunan Keraton Kanoman yang didominasi tembok-tembok putih ini. Tidak banyak wisatawan yang datang sebagaimana halnya di Keraton Kasepuhan. Pun tidak ada tiket masuk alias gratis.

DSCF1445.JPG

Tampak depan Keraton Kanoman

Di bagian luar yang berbatasan dengan pasar, entah mengapa keraton ini nampak kurang terawat dan banyak sampah-sampah plastik berserakan. Kesal rasanya melihatnya.. Namun bagusnya, bagian dalam keraton tetap terjaga, bersih, rindang dan sunyi.

DSCF1427

Sampah berserakan di bagian depan keraton

IMG_0437

Gerbang Seblawong dan Bale Paseban

img_0252

Area Siti Inggil, terdiri dari Balai Manguntur dan Panggung

Baru saya ingin bergerak menyusuri tiap-tiap bangunan, seorang ibu sudah menghampiri saya dan saya bisa membaca bahwa beliau ingin mulai menjelaskan tentang keraton ini seolah menjadi pemandu wisata. Sebagai orang Indonesia yang rajin piknik, saya sudah hapal arahnya kemana. Saya memilih untuk sibuk dengan kamera hingga ibu itu pun kemudian pergi. Barulah saya bergerak melihat-lihat Keraton Kanoman ini.

Gerbang memasuki bagian dalam keraton

Patung Macan Putih di Keraton Kanoman

Keraton Kanoman dibangun pada tahun 1588 oleh Sultan Anom I, yaitu Pangeran Kertawijaya. Saat ini, Sultan yang memimpin sudah Sultan Anom XII, yaitu Pangeran Elang Mochamad Saladin. Sebenarnya Keraton Kanoman ini merupakan awal mula peradaban Kesultanan Cirebon namun terpecah menjadi 4 keraton karena adanya konflik internal keluarga keraton kala itu.

Bangsal Jinem Keraton Kanoman

Bangsal Jinem Keraton Kanoman – lebih dekat

Di Keraton Kanoman juga terdapat Gedung Pusaka yang menyimpan berbagai koleksi benda bersejarah seperti kereta perang, keris, pedang dan lain-lain. Namun karena belum masuk saja sudah ada bapak-bapak yang ‘ngintilin’ untuk jadi pemandu, saya memilih balik arah. Dimanapun, saya tidak pernah sreg dengan cara seperti itu karena saya merasa hal tersebut tidak resmi. Si bapak juga tidak menggunakan seragam seperti halnya di Keraton Kasepuhan. Semoga saja Keraton Kanoman bisa dikelola dan ditata lebih baik lagi..

IMG_0436

Gedung Pusaka Keraton Kanoman

Sebagaimana bangunan Keraton Kasepuhan dan keraton-keraton lainnya, di sisi Timur dari bangunan Keraton Kanoman terdapat sebuah masjid yang digunakan untuk sholat bagi sultan dan masyarakat. Masjid ini terletak di samping sebuah lapangan yang setiap sore biasa dipakai anak-anak bermain bola. Bagian luar masjid merupakan teras berkanopi yang dihiasi lampu-lampu tradisional Jawa. Ukuran masjid ini tampak lebih kecil dari Masjid Keraton Kasepuhan.

Masjid Keraton Kanoman

Mihrab Masjid Keraton Kanoman

Alamat: Jl. Winaon Kampung Kanoman, Kanoman, Lemahwungkuk, Kota Cirebon 45111

Hari/Jam buka: Setiap hari/Jam 8 pagi sampai jam 6 sore

Harga tiket masuk: gratis

 

4. Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan ini merupakan yang paling muda di Cirebon. Berdiri sejak tahun 1800 di era kolonial Belanda. Tidak heran jika terlihat bangunan keraton ini mendapat sentuhan arsitektur gaya Eropa. Hingga saat ini sudah ada 9 sultan yang bertahta di keraton ini dan sultannya saat ini bernama Sultan Abdul Ghani.

Gerbang depan Keraton Kacirebonan

Saat itu saya hanya sempat melihat-lihat di bangunan induk keraton, tepatnya di bagian bangsal keraton. Di dinding terdapat beberapa pajangan kayu, foto-foto dan piring keramik. Selain itu, ada juga gamelan dan kurungan ayam yang biasa dipakai untuk upacara adat Mudun Lemah. Upacara ini ditujukan untuk bayi yang berusia 7 bulan dan baru menginjak tanah dengan tujuan agar anak tersebut kelak menjadi orang yang ‘membumi’ atau rendah hati.

Ornamen-ornamen keraton dan gamelan

Tegel lantai yang didominasi warna kuning, atap ayaman rotan dan tiang-tiang berwarna hijau berpadu sehingga menciptakan suasana megah dan cantiknya keraton ini. Jejeran kursi kayu jati dan meja di bangsal ini biasanya digunakan oleh sultan untuk menemui tamu-tamunya.

Jinem Prabayaksa di bagian induk bangunan keraton

Bangsal Jinem Keraton Kacirebonan – lebih dekat

Alamat: Pulasaren, Pekalipan, Pulasaren, Cirebon, Kota Cirebon 45116

Hari/Jam buka: Setiap hari/Jam 8 pagi sampai jam 5 sore

Harga tiket masuk: 10 ribu (dewasa)

 

5. Taman Sari Gua Sunyaragi

Sedikit lebih jauh dari pusat Kota Cirebon, saya mengunjungi Gua Sunyaragi. Nama Sunyaragi terasa unik dan baru pertama saya dengar. Sunyaragi sendiri bermakna sebagai tempat untuk menenangkan diri karena ‘sunya’ berarti sunyi sedangkan ‘ragi’ berarti raga. Kedua kata ini berasal dari Bahasa Sansekerta. Gua Sunyaragi menjadi tempat sultan-sultan Cirebon untuk melakukan meditasi. Bangunan gua ini terbuat dari susunan batu karang yang konon diambil dari Pantai Selatan Jawa dan karena itulah masih kuat bertahan hingga saat ini.

IMG_0384[1].JPG

Gua Peteng

Sekilas, Gua Sunyaragi memang tampak sederhana berupa tumpukan-tumpukan batu yang bentuknya abstrak. Tapi ternyata setelah ditelisik lebih detail, gua ini dibangun dengan berbagai sentuhan gaya arsitektur, mulai dari pengaruh Hindu, Tiongkok, hingga Arab dan Eropa. Pengaruh Hindu jelas terlihat dari bentuk gua yang menyerupai candi serta adanya bale-bale, patung gajah dan patung garuda di kompleks gua ini.

Gua Arga Jumud

Seperti halnya Taman Sari di Keraton Yogyakarta, sebenarnya Taman Sari Gua Sunyaragi merupakan sebuah taman air. Namun saat saya kunjungi, kondisinya sedang kering. Kadang-kadang air genangan bisa terlihat setelah adanya hujan terlebih di musim penghujan.

Patung Gajah

Patung Garuda dililit ular

Alamat: Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon 45132

Hari/Jam buka: Setiap hari/Jam 8 pagi sampai jam 5.30 sore

Harga tiket masuk: 10 ribu (dewasa)

 

6. Gedung Negara

Saat mengunjungi Cirebon, saya melihat kesamaannya dengan kota-kota lainnya di Pantura Jawa, yaitu banyak bangunan peninggalan Belanda. Salah satunya adalah Gedung Negara yang letaknya dekat Bunderan Krucuk. Dari depan, terlihat gedung ini didominasi cat berwarna putih dan memiliki beberapa pilar di terasnya. Atapnya berwarna cokelat bata khas bangunan-bangunan era penjajahan Belanda. Sekilas gedung ini mirip Istana Merdeka Jakarta versi mini. Hingga saat ini, Gedung Negara masih berfungsi sebagai balai pertemuan sedangkan dulunya digunakan sebagai Gedung Residen dan dinas pemerintahan Belanda.

IMG_0383[1].JPG

Bersama-sama dengan Gedung BAT dan Kelenteng Dewi Welas Asih, Gedung Negara ini ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya oleh Walikota Cirebon pada tahun 2001. Saya merasa pengesahan secara hukum tertulis ini memang sangat penting bagi bangunan-bangunan bersejarah di Cirebon sehingga segala bentuk perusakan dapat dikenakan hukuman pidana dan/atau denda.

Alamat: Jalan Siliwangi No. 14, Kejaksan, Kota Cirebon 45121

 

7. Gedung BAT (British-American Tobacco)

Saat hendak menuju ke Keraton Kasepuhan, saya melewati sebuah gedung besar yang ternyata merupakan Gedung BAT alias British-American Tobacco. Terlihat seorang bapak penjaga keamanan duduk di pintu depan bangunan ini karena memang merupakan Benda Cagar Budaya. Di dinding bangunan terdapat tulisan besar ANNO 1924 yang menunjukkan tahun renovasi gedung setelah dibeli oleh perusahaan rokok BAT. Kabarnya saat ini bangunan Belanda ini sudah tidak digunakan lagi.

Gedung BAT Cirebon

Gedung BAT Cirebon

Alamat: Jl. Pasuketan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon 45111

 

8. Kelenteng Dewi Welas Asih

Selain keraton dan bangunan peninggalan Belanda, jejak sejarah masyarakat etnis Tionghoa juga terekam melalui keberadaan kelenteng. Di Cirebon terdapat beberapa kelenteng dan vihara seperti Kelenteng Talang, Kelenteng Dewi Welas Asih dan Vihara Pemancar Keselamatan. Saya hanya sempat singgah ke Kelenteng Dewi Welas Asih yang letaknya dekat dengan Gedung BAT. Terpampang di plang informasi di depan kelenteng bahwa kelenteng ini merupakan Benda Cagar Budaya berdasarkan SK Walikota Cirebon tahun 2001. Kelenteng ini sudah ada sejak tahun 1595 dan mewarnai keberagaman masyarakat Cirebon hingga saat ini.

Kelenteng Dewi Welas Asih

Gerbang kelenteng

Menurut saya, berkunjung ke Cirebon untuk tujuan wisata sejarah setidaknya memerlukan waktu 2 hari 1 malam. Meskipun hampir seluruh bangunan bersejarah ini terletak di pusat Kota Cirebon, namun setiap bangunan, khususnya keraton memerlukan waktu kunjungan sekitar 1-2 jam. Selain itu, kuliner-kuliner enak yang ada di Cirebon pun rasanya sayang bila hanya disantap dalam 1 hari kunjungan. Alhamdulillah puas main di Cirebon!

Note:

Beberapa informasi lainnya terkait wisata dan sejarah Cirebon bisa dilihat di beberapa website yang bermanfaat berikut:

http://kasepuhan.com/

http://www.seputar-cirebon.com/

Advertisements

One thought on “Cirebon Heritage

  1. Pingback: Museum Keren nan Modern di Keraton Kasepuhan Cirebon – jamalsgetaway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s