Berkunjung ke Museum Budaya Cheng Ho di Melaka

Siapa yang tidak kenal Laksamana Cheng Ho? Seorang laksamana dari Dinasti Ming di Tiongkok yang melakukan pelayaran ke berbagai penjuru belahan bumi. Laksamana Cheng Ho bergerak dari Tiongkok hingga ke Afrika pada tahun 1405 hingga tahun 1433. Dalam pelayarannya, beliau singgah ke lebih dari 33 negara di Asia dan Pasifik termasuk ke Malaysia dan Indonesia.

IMG_0040

Laksamana Cheng Ho sang pelayar

Sejarah pelayaran Lasamana Cheng Ho dan persinggahannya di Melaka dipamerkan di Muzium Budaya Cheng Ho, Melaka (Muzium = Museum). Terletak di pusat kota tua, tepatnya dekat Jonker Walk, dari luar museum ini didominasi cat berwarna merah dan lampion-lampion khas negeri tirai bambu. Konon, museum ini dulunya merupakan bagian dari kompleks gudang besar (Guanchang) di utara Sungai Melaka pada saat Laksamana Cheng Ho berlabuh di Melaka.

IMG_0054

Museum Budaya Cheng Ho

Saat berada di Melaka saya sempat singgah ke museum ini karena saya memang tertarik dengan sejarah pelayaran Cheng Ho. Harga tiketnya adalah 20 RM untuk orang dewasa dan 10 RM untuk anak-anak. Meskipun dari luar bangunan museum ini terkesan kecil, ternyata dalamya luas dan terdiri dari beberapa ruangan yang mengisahkan kehidupan Laksamana Cheng Ho sejak kecil hingga tutup usia, termasuk kisah pelayarannya menjelajah dunia.

IMG_0035

Ruang depan museum

Kisah kehidupan Laksamana Cheng Ho

Di Museum Budaya Cheng Ho, terdapat ruangan khusus mengenai “Cheng Ho dan Islam” yang kemudian menarik perhatian saya. Diceritakan bahwa Cheng Ho berasal dari keluarga Muslim yang tersohor di Yunnan. Nenek moyangnya hijrah dari Asia Tengah pada tahun 1070 dari Dinasti Song, Sayid Ajali Syamsuddin. Saat berusia 10 tahun, ia ditangkap oleh tentara Dinasti Ming dan kemudian dibawa ke Beijing. Ia dilatih sebagai seorang serdadu dan kemudian menjadi pengawal pribadi Kaisar Yan. Pada tahun 1405 lah, Cheng Ho diangkat menjadi laksamana utama untuk memimpin pelayaran ke arah Barat dari Tiongkok.

IMG_0053

Laksamana Cheng Ho dan kakeknya

Kapal-kapal dan Pelayaran Cheng Ho

Dengan membawa puluhan ribu awak kapal dan lebih dari 300 kapal laut, Cheng Ho berlayar menjelajahi Asia dan Afrika. Kapal-kapal yang digunakan bermacam-macam ukuran dengan jumlah layar yang bervariasi. Di museum ini terdapat berbagai diorama berbagai kapal tersebut. Sebagian bisa bergerak sehingga saya menjadi terbayang betapa kolosalnya pelayaran tersebut.

IMG_0043

Diorama kapal layar Laksamana Cheng Ho

IMG_0037

Ini termasuk yang keren, bisa bergerak..

Jenis armada kapal yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho berbeda-beda jenisnya. Masing-masing memiliki peran sendiri. Ada yang menjadi kapal perang (base boat) yang terdiri dari 6 layar dan bertugas untuk melindungi kapal lain apabila terdapat serangan lawan di lautan. Selain itu, ada juga kapal tangki air (water boat) yang dikhususkan untuk mengangkut air bersih dengan estimasi volume berdasarkan kebutuhan harian per orang sekitar 2 ribu gram air. Dalam satu pelayaran, biasanya Laksamana Cheng Ho membawa 20 armada kapal tangki air. Masih banyak jenis-kapal lainnya yang dijelaskan di museum ini, seperti kapal pengangkut makanan (food boat), kapal dayung (Da ba oars) , kapal perang (combat boat) dan kapal cepat (horse boat).

IMG_0044

Struktur kapal layar Cheng Ho

IMG_0038

Peta pelayaran Cheng Ho.. beberapa kota di Indonesia juga menjadi destinasinya..

Dengan masa pelayaran dan jumlah awak kapal yang banyak sekali itu, tentunya bertanya-tanya juga saya bagaimana dengan kebutuhan air dan makanan mereka. Di museum ini diceritakan juga bagaimana awak kapal memenuhi kebutuhan perut mereka. Dari Tiongkok mereka membawa perbekalan termasuk buah-buahan, sayuran, hewan ternak (sapi, ayam, kambing) dan air tawar. Beberapa orang bertugas untuk menyiapkan makanan untuk awal kapal.

IMG_0046IMG_0045

Selain membawa hewan ternak, mereka juga membawa daging, ikan dan sayuran segar namun sudah diawetkan. Teknik pengawetan makanan sudah diterapkan sejak awal era Dinasti Ming sehingga bahan makanan dapat bertahan hingga jangka waktu tertentu.

IMG_0052

Obat-obatan herbal dan teh yang dibawa ke Melaka

IMG_0039

Navigasi pelayaran

IMG_0047

Enter a caption

IMG_0048

Kendi-kendi dari era Dinasti Ming

IMG_0049

Eel and fish trap

IMG_0050

Benda bersejarah dari era pelayaran Cheng Ho

Dalam pelayarannya, Laksamana Cheng Ho membawa seorang putri kaisar Dinasti Ming yang bernama Putri Hang Li Po. Putri ini kemudian menikah dengan Sultan Melaka saat itu. Selain itu, beberapa rombongan armada Laksamana Cheng Ho juga menikah dengan wanita-wanita Melayu setempat sehingga sekarang ini dikenal etnis Peranakan (Baba-Nyonya) di Malaysia, khususnya di Melaka dan Penang.

Alamat: 51, Lorong Hang Jebat, 75200 Melaka, Malaysia (deretan pusat oleh-oleh San Shu Gong) – (lihat peta)

Jam buka: 09.00 – 18.00 (setiap hari)

Tiket masuk: 20 RM (dewasa) dan 10 RM (anak-anak)

Website: www.chengho.org/museum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s