Kelana di Bumi Sriwijaya, Palembang

Palembang!

Akhirnya kesampaian juga saya bertandang ke kota pempek ini. Meskipun hanya beda 2 petak provinsi dari Riau, tapi rasanya jauh sekali ke Palembang ini. Kalau dengan jalur darat, saya harus menempuh waktu 17 jam dan pemandangan yang bisa dilihat mungkin hanya perkebunan kelapa sawit. Sedangkan dengan pesawat udara, ada sih 1 penerbangan langsung dengan Xpress Air, tapi harga tiketnya agak mencekik buat kantong, sekitar 750 ribu sampai 1 juta sekali jalan. Harga tiket penerbangan Pekanbaru – Palembang ini lebih mahal dari penerbangan ke Jakarta, Singapura maupun Kuala Lumpur. Pelik memang. Semoga ke depannya ada maskapai lain yang buka jalur penerbangan ini, jadi harga tiketnya bisa lebih kompetitif.

Pertama kali terbang naik Dornier – 32 seater

Berhubung kali ini ada acara kondangan teman baik di kantor, akhirnya dibela-belain juga dong untuk ke Palembang. Dan lumayan juga saya dapat potongan 100 ribu dari Traveloka saat beli tiket. Saya berangkat hari Sabtu sore (sekitar jam 5) dari Bandara SSK II Pekanbaru. Penerbangan ke Palembang dengan pesawat baling-baling Dornier 328 ditempuh dalam waktu 1 jam 10 menit. Satu hal yang saya baru tahu, ternyata bukan hanya ukuran pesawatnya yang kecil, tapi juga dimensi barang yang muat di kabin lebih kecil dari pesawat jet maupun pesawat ATR yang sebelumnya pernah saya naiki saat pergi ke Melaka. Alhasil, tas perang saya yang bentuknya mirip pempek lenjer ini terpaksa harus dimasukkan ke dalam bagasi di bawah.

Mendarat di Palembang sekitar jam 6 sore di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Jarak dari bandara ke pusat kota Palembang kira-kira 10-15 km. Pilihan taksi di bandara sebenarnya macam-macam, mulai dari taksi lokal, Star Cab (Go Star) yang juga berbasis aplikasi online, serta bus Transmusi. Sedangkan untuk taksi berbasis aplikasi online seperti Go-Car, Grab-Car dan Uber serta taksi Bluebird masih dilarang untuk mengambil penumpang dari Bandara SMB II ini. Kalau untuk pengantaran penumpang sih masih boleh, seperti kebanyakan di kota-kota besar lainnya.

Di Palembang saya menginap di hotel budget andalan, yaitu Red Planet Hotel (dulunya Tune Hotel). Lokasinya ada di Jalan Jendral Sudirman KM 3,5 (depan SMAN 3 Palembang). Dengan harga per malam 280 ribu rupiah saja, fasilitas di hotel ini sudah lumayan cocok untuk sekedar tidur dan mandi dengan nyaman.

Red Planet Hotel Palembang

Menikmati Pempek di Kota Asalnya

Pempek memang sudah bukan kuliner lokal lagi, sejagad bumi pertiwi pasti sudah kenal dan mencoba pempek. Di Pekanbaru sendiri ada beberapa pempek yang enak rasanya. Tapi mencoba pempek di kota asalnya pasti memberikan kesan tersendiri. Di Palembang ada banyak gerai pempek terkenal, mulai dari Candy, Vico, Nony 168, Saga sampai nama-nama lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Setiap ruas jalan pasti ada gerai pempek. Selama di Palembang saya sampai makan di 3 gerai berbeda.

Pempek bakar di Saga Sudi Mampir

Pempek kulit, lenjer kecil dan kapal selam di Saga Sudi Mampir

Pembuatan lenggang dan pempek bakar

Pempek Saga Sudi Mampir di Jalan Merdeka

Menurut lidah saya, Pempek Saga rasanya biasa saja. Tapi saya yakin buat kebanyakan orang di luar Sumatra, pasti akan bilang pempek ini enak sekali. Di Jakarta saja pempek yang enak bisa dihitung jari dan itu pun standar rasanya memang masih jauh dibanding pempek di Sumatra. Mungkin kalau di Jakarta, pempek yang lumayan berkualitas itu seperti Pempek Pak Raden dan Cawan Putih kali ya..

Nah, kalau Pempek Nony 168 lidah saya cocok! Pempek kulit di sini lebih berasa ikannya. Selain itu, baru di sini juga saya mencoba pempek pistel (isi pepaya muda) dan pempek keriting. Kuah cuko di pempek sini juga saya akui lebih enak dari gerai pempek lain yang pernah saya singgahi. Harga pempek kapal selam di sini 20 ribu sedangkan pempek kecil (aneka jenis) 4 ribu. Biasanya pempek kecilnya akan ‘dihidang’ ala di RM Padang, jadi yang akan dihitung adalah yang dimakan saja.

Pempek Nony 168 di Jalan Jendral Sudirman

Perang Kolestrol Bersama Martabak India

Berhubung saya tidak tahu kalau di Red Planet Hotel ini ternyata ada tempat sarapan juga, jadi saya pesan kamar tanpa sarapan. Minggu pagi itu, sebelum berangkat kondangan saya mesti cari tempat sarapan di luar. Ternyata jalan kaki sedikit keluar dari hotel, tepatnya di Jalan Mayor Santoso No. 1467, 20 Ilir, Palembang ada Kedai Nasi & Martabak India “Raja”. Di sini saya pesan 1 martabak yang harganya hanya 14 ribu ditambah sebotol air mineral. Martabak ini sebenarnya simpel banget ya, hanya kulit martabak yang diisi dengan 2 ceplok telur utuh, kemudian digoreng di atas wajan. Martabak disajikan dengan bumbu kari + bumbu rawit.

Martabak India “Raja”

Pagi-pagi kedai ini sudah menggoreng puluhan martabak

Kondangan “The Wedding of Anike & Mas Arif”

Sudah dari lama saya bilang ke Anike, si mempelai wanita yang sudah saya kenal sejak awal 2014 di kantor, bahwa saya mau ke Palembang kalau LRT di sana sudah jadi. Tapi apa daya, dia sudah kebelet menikah sebelum proyek LRT selesai. Beberapa orang kantor datang ke Palembang untuk menghadiri pernikahan Anike dan Mas Arif yang menggunakan adat Minangkabau. Sampai kira-kira jam 1 siang di tempat kondangan, barulah setelahnya kami pergi untuk melihat destinasi menarik di Palembang, yaitu Bait Al-Quran Al-Akbar.

One word.. Hits 🙂

Bait Al-Quran Al-Akbar

Sepulang dari kondangan di Hotel Graha Sriwijaya, bersama rekan-rekan kantor saya singgah ke Bait Al-Quran Al-Akbar atau yang banyak dikenal juga sebagai Al-Quran Raksasa. Meskipun agak jauh dari pusat kota, tepatnya di Jalan M. Amin Fauzi, daerah Gandus dan harus melalui jalan berliku serta bergelombang, akhirnya tiba juga kami di sini. Setiap pengunjung yang masuk dikenakan tarif 5 ribu rupiah dan wajib melepas alas kaki.

Megahnya Bait Al-Quran Al-Akbar

30 Juz ayat-ayat Al-Quran ini dituliskan di lempengan kayu tembesu dan disusun secara 3 dimensi, ke samping, ke atas dan ke bagian dalam. Tepian tiap lempengan kayu ini dihiasi motif bunga yang khas ukiran Palembang. Destinasi wisata religi ini tergolong baru di Palembang karena baru selesai dibuat dan diresmikan oleh (Mantan) Presiden SBY pada tahun 2012 di dalam kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah. Acara peresemian dihadiri oleh perwakilan dari 51 negara Islam sedunia sekaligus diserahkannya penghargaan dari MURI yang menobatkan Bait Al-Quran Al-Akbar sebagai Al-Quran di ukiran kayu perama terbesar di dunia.

Megahnya ukiran Al-Quran di lempengan kayu tembesu

DSCF2103.JPG

Rombongan kondangan bergaya di bait-bait Al-Quran Al-Akbar

DSCF2073.JPG

Bu Euceu jadi model foto saya hari ini ya, Bu.. 🙂

Melihat Megah dan Cantiknya Jembatan Ampera

Pergi ke Palembang tentu belum sah kalau belum lihat ikon sekaligus landmark dan kebanggaan masyarakat Palembang. Apalagi kalau bukan Jembatan Ampera. Jembatan bercat merah yang memiliki panjang sekitar 1,1 km itu menjadi urat penghubung antara Palembang bagian Ilir dan Ulu. Wilayah Palembang Ilir ini sepertinya merupakan wilayah yang lebih maju dimana terdapat banyak hotel, fasilitas publik, mall, jalan layang termasuk bandara. Sedangkan wilayah Ulu kebanyaka merupakan pemukiman dan belakangan dikembangkan menjadi kawasan bangunan pemerintahan dan pusat olahraga (Jakabaring Sport City).

Jembatan Ampera menjadi urat penghubung daerah Ilir dan Ulu di Palembang

Jembatan Ampera ini dulunya bisa diangkat bagian tengahnya untuk memudahkan lalu lintas kapal berukuran besar yang melintasi Sungai Musi. Namun sejak tahun 70-an, sistem tersebut sudah tidak digunakan karena mengganggu lalu lintas kendaraan dari Ilir ke Ulu dan sebaliknya. Saat ini hanya kapal-kapal berukuran kecil (ketek) dan kapal sedang yang bisa melintas di bawah Jembatan Ampera.

Sibuknya aktivitas kapal di Sungai Musi – pandangan dari 10 Ulu

Waktu terbaik untuk bisa melihat jembatan ini sebenarnya mulai petang (maghrib) sampai malam hari. Lampu warna-warna dipasang menyoroti jembatan dengan 2 menara kembar ini. Spot terbaik menurut saya adalah di Dermaga Point, sebuah mall kecil di tepian Sungai Musi, dekat Benteng Kuto Besak (BKB). Selain bisa melihat jembatan dari jarak dekat, di sini juga lebih nyaman untuk santai-santai dan foto-foto. Kalau di plaza depan BKB rasanya terlalu berjubel orang, apalagi setiap Sabtu dan Minggu malam.

Tepian Dermaga Point dan Jembatan Ampera

Cantiknya Jembatan Ampera di malam hari

Beberapa rumah makan di atas kapal

Suasana malam di plaza BKB

Tugu Belido dalam proses pengerjaan – landmark baru Palembang

Sarapan Laksan, Kuliner Khas Palembang

Selain pempek, masih banyak kuliner lain khas Palembang. Salah satunya adalah Laksan. Ya, Laksan, bukan Laksa. Kalau di Palembang, Laksa dikenal dengan nama Lakso. Laksan ini merupakan makanan yang dibuat dari olahan ikan dan sagu. Bentuknya seperti pempek lenjer namun pipih dan disajikan dengan kuah seperti lontong sayur Betawi.

Salah satu warung makan yang terkenal untuk menu sarapan khas Palembang adalah Warung Aba. Warung makan ini terletak di Jl. Dr. M. Isa, Kuto Batu, tepatnya di dekat Pasar Kuto. Warung yang dimiliki oleh orang Palembang keturunan Arab ini menjual beraneka makanan seperti celimpungan, burgo, lakso, laksan dan pempek. Demi alasan keamanan hasil analisa kolestrol saya membatasi diri untuk hanya mencoba laksan di sini. Rasanya lumayan enak, tapi tidak cocok untuk dimakan porsi besar. Pengaruh tepung dan santannya membuat saya cepat kekenyangan..

Warung Aba

Suasana pagi di Pasar Kuto

Kampung Arab Al-Munawar

Sejak dulu saya sudah pernah dengar bahwa di Palembang banyak juga orang-orang keturunan Arab. Sama halnya seperti di Jawa, kakek buyut mereka biasanya sudah menikah silang (crossing) dengan wanita setempat. Dengan bantuan abang Gojek akhirnya saya bisa menemukan perkampungan ini di Palembang. Lokasinya ada di tepian Sungai Musi dan berada dekat Pasar 10 Ulu, tepatnya di Lorong Al-Munawar, Jalan KH. Azhari.

Sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Lorong Al-Munawar

Jejeran bangunan besar yang terbuat dari kayu dan beratapkan genteng menyambut saya setelah memasuki Lorong Al-Munawar. Bangunan-bangunan mencolok tersebut merupakan sekolah/madrasah, gedung pertemuan dan bangunan kembar. Tampak beberapa ibu-ibu sedang duduk-duduk sambil menunggu anaknya sekolah.

Gedung pertemuan/rapat. Ini mobil-mobil bisa dipinggirin dulu nggak? :p

Bangunan-bangunan dan rumah-rumah penduduk di Kampung Arab ini baru belakangan mulai dirapikan. Jalan-jalan di lorong ini juga baru belakangan diberi paving block sehingga menambah daya tarik di kampung ini. Waktu kunjungan di hari Senin-Kamis dan Sabtu-Minggu adalah mulai pukul 8 pagi sampai 5 sore. Sedangkan khusus untuk hari Jumat, kampung ini tidak menerima kunjungan.

Pesona Kampung Arab Al-Munawar

Salah satu rumah warga di Lorong Al-Munawar

Heningnya Lorong Al-Munawar

Musholla/Langgar Al-Munawar

Rumah kayu menjadi ciri khas bangunan di kampung ini

Meskipun sudah terlihat tertata rapi, masih ada permasalahan yang nampaknya belum terselesaikan di kampung wisata ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah sampah yang menumpuk di tepian sungai. Pun di beberapa sudut di lorong kampung. Semoga ke depannya pembangunan pariwisata bisa lebih mengedepankan masalah kebersihan ini..

Masalah klasik tepian sungai di Indonesia.. sampah..

Kampung Kapitan Tionghoa

Setelah menyambangi Kampung Arab Al-Munawwar di 7 Ulu, saya bergegas memesan Gojek lagi dengan tujuan ke Kampung Kapitan. Perjalanan saya menuju Kampung Kapitan mesti menembus riuhnya kemacetan karena aktivitas jual beli di pagi hari. Setelah memasuki sebuah lorong (gang) dari Jalan KH. Azhari, saya tiba di Kampung Kapitan. Terlihat beberapa rumah beratap limas berukuran besar dan beberapa tukang yang sedang melakukan pekerjaan renovasi di salah satu rumah. Rumah limas di Kampung Kapitan ini ukurannya cukup luas dan semuanya menghadap ke Sungai Musi.

Saat saya mendekat ke salah satu rumah, seorang bapak memanggil saya untuk tidak perlu ragu masuk dan naik ke atas rumah tersebut.

“Masuk.. masuk.. Ayo lihat-lihat”, katanya.

Saya spontan langsung tanya, “Ini nanti ada uang masuknya nggak, Pak? Hehe.”

Dan beliau bilang “Belum, karena kita di sini juga masih dirapihin. Nanti mungkin iya”

Beliau ternyata adalah keturunan ke-13 dari Kapitan Tjoa, yaitu Pak Mulyadi. Rumah limas tersebut merupakan tempat tinggal beliau bersama keluarganya. Saya diantar keliling untuk lihat-lihat bagian dalam rumah, foto-foto dan dijelaskan tentang sejarah Kampung Kapitan ini. Pak Mulyadi juga memberikan saya sebuah booklet tentang Kampung Kapitan yang dibuat oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Arsitektur Universitas Sriwijaya (UnSri).

DSCF2303.JPG

Rumah Kapitan (Pak Mulyadi)

Teras depan Rumah Kapitan

Kapitan Tionghoa sendiri artinya adalah kapten/pemimpin untuk komunitas perkampungan Tionghoa. Di Palembang kala itu, komunitas Tionghoa mayoritas tinggal di tepian Sungai Musi. Kapitan berperan sebagai perwakilan dan perantara komunitas untuk berbagai urusan dengan pemerintah Belanda pada era penjajahan dulu.

Di rumah Pak Mulayadi terpampang juga beberapa foto dari kapitan yang pertama di Palembang pada era penjajahan Belanda, yaitu Tjoa Kie Tjuan. Satu hal yang unik dari lukisan ini terletak pada matanya. Ternyata kalau kita bergeser ke kanan maupun ke kiri, mata dari sang kapitan ini seolah mengikuti kita. Pak Mulyadi juga bilang dia baru sadar tentang hal itu dari komentar orang-orang yang datang 😀

Di samping Rumah Kapitan, terdapat Rumah Abu dengan bentuk dan gaya arsitektur yang hampir serupa. Perbedaan fisik yang kentara dari depan adalah pilarnya. Rumah Abu ini disokong oleh pilar-pilar beton sedangkan Rumah Kapitan pilarnya terbuat dari kayu. Belakangan saya baru paham ternyata struktur pilar tersebut dikenal dengan nama kolom doric dalam bidang Arsitektur. Dulunya Rumah Abu merupakan tempat Kapita Tjoa berkantor. Kolom bergaya Eropa ini seolah menyimbolkan bahwa Kapitan Tionghoa merupakan perwakilan dari pemerintah Belanda. Sekarang ini Rumah Abu berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada leluhur.

Rumah Abu yang terletak di samping Rumah Kapitan

Altar puja di Rumah Abu

Di lingkungan Kampung Kapitan ini saya melihat beberapa rumah kayu lainnya yang berdiri di atas tepian sungai. Suasana hari itu sangat sepi. Hanya ada beberapa anak kecil yang saya temui. Kondisi tepian sungai sepertinya tidak perlu dijelaskan, karena sudah kondisi umum dimana-mana di negeriku ini pasti sungainya kotor. Semoga dengan keberadaan situs bersejarah Kampung Kapitan, ditambah dengan adanya Asian Games di Palembang 2018 nanti, pemerintah daerah bisa memberi penanganan lebih terkait kondisi lingkungan ini.

Kelenteng Tertua di Palembang, Kelenteng Chandra Nadi

Masih di tepian Sungai Musi, di daerah 10 Ulu, saya melintasi sebuah kelenteng yang ternyata merupakan yang tertua di Palembang. Namanya Kelenteng Tri Dharma Chandra Nadi (Soei Goat Kiong Temple). Kelenteng ini sudah berdiri di Palembang sejak tahun 1773 dan menjadi tempat ibadah umat yang menganut kepercayaan Konghuchu, Buddha dan Tao.

Kelenteng Tri Dharma Chandra Nadi

Rumah dengan ornamen khas Tionghoa di depan kelenteng

Cukup puas berkelana di kota pempek ini. Semoga lain waktu ada kesempatan lagi untuk singgah karena ada satu tempat menarik yang belum dikunjungi, yaitu Museum Balaputra Dewa. Museum ini tutup setiap hari Senin, sayang sekali tidak bisa ke sana. Padahal di sana ada replika rumah limas yang muncul di uang kertas (lama) pecahan 10 ribu. Huft..

See you again, Palembang!

Advertisements

6 thoughts on “Kelana di Bumi Sriwijaya, Palembang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s