Jelajah Rimba Riau – Puncak Cubodak dan Gulamo

Tengah bulan Oktober ini, saya sempat menghabiskan waktu untuk ikut trip bersama LPE Riau. LPE sendiri merupakan singkatan dari Laskar Penggiat Ekowisata, sebuah paguyuban pencinta ekowisata yang bercita-cita untuk mengembangkan ekowisata di Riau. Awal mula saya mendapat informasi trip ini berasal dari grup Whatsapp LPE Riau hingga kemudian seseorang bernama Ibnu mem-posting tentang rencana open trip 2 hari 1 malam. Tujuannya adalah ke Kabupaten Kampar, tepatnya ke Puncak Cubodak dan ‘Green Canyon’ Gulamo untuk tanggal 14-15 Oktober 2017. Paket yang ditawarkan cukup menarik, mencakup makan 3x, tempat menginap (meski ala kadarnya), semua biaya transportasi, snack, dan kapal (PP). Namun yang lebih menarik bagi saya adalah bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki kecintaan akan ekowisata di Riau.

Oya, biaya trip ini hanya 350 ribu per orang. Dihitung-hitung ketimbang harus bawa mobil sendiri ke sana, pegel nyetir dan ribet sewa perahu, rasanya harga yang ditawarkan cukup ramah di kantong.

Paket trip LPE Riau

Perjalanan dimulai dari Anjungan Seni Idrus Tintin (MTQ Provinsi Riau) yang lokasinya dekat bandara Pekanbaru. Ada sekitar 25 orang yang akan berangkat ke Kampar siang itu. Destinasi pertama kami adalah Puncak Cubodak, sekitar 2 jam perjalanan darat dengan menggunakan mobil atau bus dari pusat kota Pekanbaru. Dari puncak bukit ini, kami bisa melihat panorama Danau PLTA Koto Panjang yang sangat mengagumkan hingga belakangan disebut-sebut sebagai Raja Ampatnya Riau. Tapi bagi saya setiap tempat di Indonesia itu unik. Koto Panjang ini tetaplah Koto Panjang, ia memiliki kecantikannya tersendiri yang unik sebagai bagian dari Bukit Barisan.

Pemandangan pertama yang membuka trip ini

Penyerahan bibit sirsak ke Pak Bur, sang pemilik lahan

Nama Puncak Cubodak sendiri diambil dari nama kebun buah cubodak yang ditanam oleh Pak Bur, sang pemilik lahan. Awalnya saya juga belum tahu apa itu cubodak. Usut punya usut ternyata cubodak artinya adalah nangka. Karena itulah saat bermalam di sana, rombongan trip disuguhkan dengan es buah cubodak dan pangek cubodak. Selain itu, kami juga sempat makan malam asam pedas patin dan patin bakar. Ikan patin bisa dibilang merupakan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Riau, juga ikan gabus dan ikan tapah.

Kuliner yang disediakan panitia open trip Jelajah Riau

Sejarah Danau PLTA Koto Panjang

Danau PLTA Koto Panjang merupakan sebuah danau buatan yang selesai dibangun pada era Presiden Soeharto, sekitar tahun 1993. Danau ini dibuat sebagai upaya untuk pemenuhan pasokan listrik di Riau dan Sumatera Barat. Di balik indahnya danau ini, terdapat sebuah kisah tentang pengorbanan sebagian hutan, jalan, habitat satwa dan pemukiman penduduk yang harus ditenggelamkan. Cerita itu pertama saya ketahui dari Kak Kunni, salah seorang penggiat ekowisata di Riau.

Proyek ini pertama kali diinisiasi oleh PLN yang melihat peluang potensi energi sekitar 233 MW dari aliran air Sungai Kampar Kanan (dan Batang Mahat) untuk pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat.

Danau PLTA Koto Panjang di pagi hari

Tempat api unggun dan camping

Setelah membaca-baca lebih lanjut, ternyata cerita tentang penenggelaman kawasan ini cukup menarik. Ada sekitar 9 desa termasuk jalan akses Riau ke Sumatera Barat yang ikut ditenggelamkan. Mulai dari berbagai konsultan Jepang hingga JICA terlibat dalam studi, perencanaan dan eksekusi pembuatan danau PLTA ini. Tahun 80-90an, Pemerintah Indonesia, khususnya Pemda Kampar gencar melakukan sosialisasi, menginventori harta kekayaan penduduk setempat dan menghentikan pembangunan fasilitas publik di area ini. Pemerintah Jepang juga memberikan bantuan pinjaman dana untuk proyek ini, dengan syarat pra-eksekusi berikut.

1. Gajah yang bermukim di lokasi harus diselamatkan dengan memindahkannya ke tempat perlindungan yang cocok.
2. Tingkat kehidupan KK yang kena dampak dari proyek Koto Panjang tingkat kehidupannya harus sama atau lebih baik dari kehidupannya di tempat lama
3. Persetujuan pemindahan bagi yang terkena dampak proyek prosesnya harus dilakukan dengan adil dan merata

Sumber dan kronologi lengkapnya bisa dibaca di link ini:

http://www.putramelayu.web.id/2013/05/kronologi-sejarah-danau-plta-koto.html

Sisa-sisa vegetasi hutan yang tenggelam sejak tahun 90-an

Pulau Lama, sisa-sisa desa yang ditenggelamkan

Mbak Sistri, teman baru dari trip Jelajah Rimba Riau

Perjalanan ke ‘Green Canyon’ Gulamo

Setelah bermalam di Puncak Cubodak, pagi harinya panitia menyiapkan beberapa permainan (games) yang menarik dan menurut saya sangat bermanfaat untuk melatih kekompakan dan menambah keakraban peserta trip. Yang saya suka adalah motto mereka, yaitu “Sekali bertualang, selamanya menjadi keluarga”. Setelah trip pun masih ada silaturahmi yang dijalin, mulai dari makan bareng sampai merencanakan trip berikutnya.

Bertolak dari Puncak Cubodak, rombongan berangkat ke dermaga kapal yang letaknya di dekat Jembatan I Danau PLTA Koto Panjang. Ada 3 kapal kayu yang kami gunakan, salah satunya bernama Calakio. Calakio sendiri merupakan nama asli dari Sungai Gulamo, sungai yang akan kami sambangi pagi itu. Semua peserta diberikan life vest sebagai safe guard perjalanan 2 jam menyusuri Danau PLTA Koto Panjang sampai masuk ke Sungai Gulamo.

Tempat naik perahu dekat Jembatan I PLTA Koto Panjang

Hello!

Hari itu cerah sekali, secerah mood semua peserta trip. Jembatan I Danau PLTA Koto Panjang tampak melintang panjang di menghubungkan Desa Tanjung Alai yang terpisahkan oleh aliran danau. Namanya boleh alai ya, tapi pemandangan alam di sini, berkelas.. Hehe..

Saat menyusuri danau, pemandangan bukit-bukit hijau tidak membuat saya bosan untuk siaga bersama kamera saya. Secara umum, kondisi alamnya masih baik, tidak terlalu banyak keramba liar di danau dan vegetasi perbukitan masih alami. Di beberapa titik saja tampak mulai ada konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. Semoga saja hal ini tidak meluas kemana-mana. Sudah tidak bisa berkata banyak kalau dengan tanaman yang satu ini..

Jembatan I PLTA Koto Panjang dan langit yang cerah..

Memandangi keindahan ciptaan-Nya sambil panas-panasan

Kapal Calakio

Sisi ini masih bagus sekali hutan primernya..

Kumpul bocah

Singgah sebentar, katanya mau lihat air terjun..

Setelah 2 jam menyusuri danau, jalur semakin menyempit dan berkelok-kelok. Ini pertanda kami sudah dekat ke Sungai Gulamo. Oya, sungai ini bukan sekedar sungai biasa. Tapi aliran airnya diapit oleh tebing-tebing batu yang tinggi menjulang sehingga menciptakan nuansa mirip Green Canyon di Pangandaran.

Aliran danau mulai menyempit

Memasuki Sungai Gulamo

Diapit oleh indahnya tebing batu yang tinggi

Akhirnya, tiba juga kami di ‘Green Canyon’ ala Riau. Sangat tidak kalah dibandingkan dengan yang di Pangandaran. Bebatuan besar berlumut yang ditumbuhi beberapa tanaman paku berpadu padan dengan manisnya sinar mentari yang menembus masuk ke dasar sungai. Aktivitas yang bisa dilakukan di sini mulai dari mandi-mandi di sungai dan air terjun (kalau lagi besar alirannya), berenang sampai body rafting mengikuti aliran sungai.

What a hidden gem!

Terima kasih Gulamo, terima kasih Puncak Cubodak dan terima kasih kepada LPE Riau yang sudah mengajak saya untuk bisa berkeliling menikmati indahnya Kampar. Semoga secepatnya ada trip-trip berikut..

Nggak ada ruginya datang ke sini jauh-jauh

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Jelajah Rimba Riau – Puncak Cubodak dan Gulamo

  1. Gantok

    Saat naik perahu memasuki Grand canyon Gulamo, rasa decak kagum, dengan lirih saya bergumam Subhanallah, wow singkapan litologinya luar biasa seperti di text book, di bagian bawah ada batupasir bertekstur graded bedding dengan ukuran kerikil sampai medium sand, selaras di atasnya numpang batupasir dengan tekstur cross bedding, di atasnya lagi ada batupasir bertekstur laminasi paralel sampai wavy. Warna dominan Kuning kecoklatan, dengan kemiringan sekitar 10 derajad. Disela-sela batupasir keluar air yang segar, merupakan air tanah yang terturap. Saya meminumnya tanpa dimasak, Insya Allah, air yang super bersih tdk mengandung bakteri. Kandungan lempungnya sedikit, yang menjadikan sungai mengalir bersih, segar untuk mandi. Makin ke ujung sungai terdapat tebing yang bila musim hujan akan mengalir air terjun. Kali ini tebing setinggi sekitar 7 meteran itu kami gunakan untuk loncat indah. Kami Laskar Penggiat Ekowisata, mohon kepada pemerintah untuk tetap menjaga lingkungan daerah ini, jangan sampai gara-gara pemenuhan ekonomi, daerah ini rusak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s