Bertualang Menyusuri Kota Tua Bagan Siapiapi

Perjalanan kami untuk bisa berwisata di Bagan Siapiapi dimulai dari Jumat malam sekiranya pukul 9. Demi alasan keamanan perjalanan, kami berencana untuk bermalam terlebih dahulu di Duri, sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Bengkalis yang berjarak sekitar 120 km dari Pekanbaru. Waktu tempuh yang seharusnya tidak lebih dari 3 jam berubah menjadi 5 jam karena ada truk terguling sehingga mengakibatkan kemacetan panjang yang luar biasa. Kemacetan di Jl. Lintas Pekanbaru-Duri ini bukan hal yang jarang terjadi dan sebenarnya sudah pernah saya alami sebelumnya, bahkan lebih parah dari ini. Sepanjang jalan, mulai dari daerah Pinggir hingga Pungut, tampak beraneka truk yang mengantri di sisi kanan dan kiri jalan. Tidak jarang para supir truk yang sudah putus asa dengan kemacetan parah ini ini memarkirkan kendaraannya (dengan memakan badan jalan), lalu tidur lelap atau singgah ke warung terdekat.

Malam itupun hujan lebat sehingga perlu kehati-hatian ekstra. Jam 2.30 pagi akhirnya kami bisa berpelukan mesra dengan empuknya bantal dan kasur di kamar. Setelah sempat tidur (cukup nyenyak) akhirnya kami melesat ke Bagan Siapi-api dari jam 10 pagi dan tiba jam 1 siang. Perjalanan sejauh 150 km ini harus menghadapi medan yang bervariasi, mulai dari kondisi jalan yang bagus, berlubang sampai hancur-hancuran. Jalanan yang terbilang cukup jelek kami temui setelah melewati Ujung Tanjung hingga sebelum memasuki Bagan Siapiapi.

Jalanan berlubang banyak dijumpai di Jl. Lintas Bagan Siapiapi-Ujung Tanjung

Dalam perjalanan menuju Bagan Siapiapi, kami menjumpai beberapa jembatan yang melintasi Sungai Rokan. Sungai Rokan merupakan sungai yang membentang dan mengalir dari Kabupaten Rokan Hulu hingga Kabupaten Rokan Hilir kemudian bermuara ke Selat Malaka.

Jembatan yang melintasi Sungai Rokan

Sungai Rokan.. ternyata lebar juga ya..

Sisi lain Sungai Rokan

Sebelum memasuki pusat kota, kami berjumpa dengan berbagai patung dan monumen yang letaknya ada di bundaran jalan. Kami berhenti beberapa kali di tepian jalan untuk berfoto-foto bersama di sini. Patungnya unik-unik, ada patung nelayan, patung satwa liar, gong perdamaian dan juga ada patung ikan karena Bagan Siapiapi dulunya memang dikenal sebagai kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia (setelah kota Bergen, Norwegia). Teringat buku-buku IPS dan RPUL jaman SD dulu yang menyebutkan bahwa kota ini merupakan menghasil ikan terbesar di Indonesia.

Patung petani

Semacam “Patung Selamat Datang”-nya Rokan Hilir

Patung ikan

Kabupaten Rokan Hilir juga dijuluki sebagai Negeri Seribu Kubah karena banyak bangunan (khususnya bangunan pemerintahan) di sini yang memiliki atap berbentuk kubah layaknya sebuah masjid. Bangunan megah berkubah dapat mudah ditemui di Kawasan Perkantoran Batu 6 yang akan saya ceritakan kemudian 🙂

Rokan Hilir, Negeri Seribu Kubah

Bergaya di Gong Perdamaian Rokan Hilir

Ikut bergaya juga..

Saat memasuki daerah pusat kota dari Bagan Siapiapi, tampak jalan raya yang sangat halus, berbeda halnya dengan ruas-ruas jalan sebelumnya yang kami lewati. Beberapa lampu penerangan jalan pun berjejer rapi dengan solar panel meskipun sebetulnya banyak yang tidak berfungsi (terjawab saat perjalanan pulang di malam hari).

Bagan Siapiapi sendiri merupakan ibukota/pusat pemerintahan dari Kabupaten Rokan Hilir, kabupaten terkaya ke-5 di Indonesia. Saat berkeliling kota, saya merasakan keunikan tersendiri di sini. Bagan Siapiapi terlihat bagai sebuah pecinan besar karena memang mulanya diramaikan oleh orang-orang Tionghoa sejak tahun 1800an.

Suasana sepanjang hari di Bagan Siapiapi mengingatkan saya pada suasana di Selatpanjang, Kepulauan Meranti dan Bengkalis yang juga berada di pesisir daratan Riau. Kenapa? Karena banyak bangunan sarang walet dan juga rekaman cuitan burung-burung tersebut. Ternyata sarang walet ini juga menjadi komoditi andalan di Bagan Siapiapi, terlebih setelah produksi ikan sudah menurun. Baca juga: Mampir ke Selatpanjang si Kota Sagu

Suasana sore hari di Bagan Siapiapi

Sudut kota Bagan Siapiapi

Bangunan di pusat kota bercat warna-warni nan instagrammable

Jejeran rumah dan ruko khas Bagan Siapiapi

Lalu, apa saja yang menarik dari kota tua Bagan Siapiapi ini? Berikut adalah hasil petualangan saya bersama teman-teman selama setengah hari berada di sana.

Kelenteng Ing Hok Kiong

Bagan Siapiapi sangat erat dengan budaya Tionghoa. Ada sekitar 100 kelenteng dengan beragam desain bangunan yang dapat dijumpai dengan mudah di penjuru kota. Kelenteng-kelenteng tersebut merupakan tempat ibadah umat Konghuchu dan ajaran Tri Dharma. Di tengah-tengah pusat kota, tepatnya di seberang IP Plaza, dengan mudah terlihat sebuah bangunan kelenteng tertua dan bersejarah, yaitu Kelenteng Ing Hok Kiong. Kelenteng ini berada di Jl. Kelenteng dan sudah berdiri sejak tahun 1826. Pada saat ritual tahunan Bakar Tongkang, prosesi akan dimulai dari kelenteng ini.

Kelenteng tertua di Bagan Siapiapi

Selain kelenteng tertua tersebut, terdapat pula beberapa kelenteng lain dan tempat ibadah umat Buddha berupa vihara yang memiliki desain bangunan ala negeri tirai bambu. Salah satunya adalah Vihara Buddha Kirti yang tampak megah dengan dua patung naga bercat kuning bertengger di gapura gerbang masuk. Tampak juga dua buah pagoda bercat merah, kuning dan hijau di sisi kiri dan kanan bangunan utama.

Kelenteng lainnya di pusat kota

Vihara Buddha Kirti

Rumah Kapitan Tionghoa

Bangunan bersejarah lainnya yang masih erat dengan kehidupan masyarakat Tionghoa Bagan Siapiapi adalah Rumah Kapitan. Berhubung tidak ada di Google Maps, akhirnya kami bertanya ke penduduk setempat mengenai lokasi Rumah Kapitan ini. Ternyata lokasinya ada di belakang Hotel Lion, salah satu hotel terbesar di Bagan Siapiapi. Untuk menjumpai rumah ini, dari Jl. Lintas Bagan Siapiapi-Ujung Tanjung bisa berbelok ke kiri ke Jl. Kelenteng. Sebelum perempatan Jl. Mawar, terdapat sebuah gang kecil di sisi kanan. Nah, di gang inilah lokasi Rumah Kapitan itu berada. Letaknya ada di sebelah kanan dengan halaman yang luas dan tidak berpagar.

Rumah Kapitan Tionghoa satu-satunya di Riau ada di Bagan Siapiapi

Kalau di Sumatera Selatan Rumah Kapitan Tionghoa ada di Kota Palembang, di Riau adanya di Bagan Siapiapi (Baca juga: Kelana di Bumi Sriwijaya, Palembang). Rumah yang dibangun dari kayu ini sudah berdiri sejak tahun 1800-an dan menjadi rumah kapitan (kapten/pemimpin) masyarakat Tionghoa Bagan Siapiapi. Kapitan berperan untuk mengontrol perdagangan khususnya komoditi ikan dan garam. Mulanya ada beberapa rumah kapitan di Bagan Siapiapi, namun kebanyakan sudah dihancurkan dan dibangun ruko. Rumah kapitan milik Ng I Tam inilah satu-satunya yang tersisa hingga sekarang.

Gereja Tua Santo Petrus & Paulus

Tidak jauh dari Kelenteng Ing Hok Kiong, terdapat sebuah gereja tua di Jl. Dr. Protomo. Gereja tersebut bernama Gereja Santo Petrus & Paulus (lihat peta). Gereja ini merupakan peninggalan sejak era penjajahan Belanda. Desain bangunan gereja ini bergaya Eropa klasik, dengan dinding kayu dan bagian atap berbentuk kerucut. Di bagian atap terdapat sebuah jam analog yang masih berfungsi dengan baik.

Gereja Santo Petrus & Paulus

Suasana Jl. Dr. Protomo di depan gereja

Asrama Brimob

Masih di sekitar Gereja Santo Petrus & Paulus, terdapat sebuah bangunan Asrama Brimob yang dulunya digunakan sebagai asrama suster. Dengan gaya bangunan yang sama klasiknya, asrama ini dibangun dari dinding, pintu dan jendela kayu serta beratapkan genteng. Sepengamatan saya, sangat jarang bangunan di Riau ini yang memiliki atap genteng seperti halnya di Jawa. Selain itu, di bagian tengah atap tersebut terdapat sebuah minaret dengan puncak berbentuk kerucut sehingga bangunan Asrama Brimob ini terkesan unik.

Asrama Brimob Bagan Siapiapi

Rumah Raja Baut dan IP Plaza

Di pusat kota, ada 2 bangunan yang menyita perhatian kami, yaitu Rumah Raja Baut dan IP Plaza. Awalnya kami mengira Rumah Raja Baut tersebut adalah sebuah hotel karena memiliki 5 lantai dan memiliki gaya arsitektur yang berbeda sendiri dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Namun ternyata, rumah ini merupakan rumah pribadi/perorangan. Wow! Menurut informasi si bapak driver kami, Raja Baut merupakan orang asli Bagan Siapiapi yang merantau ke Jakarta dan literally merupakan raja baut.

Rumah Raja Baut

Tak jauh dari rumah ini ada pula IP Plaza yang dibangun untuk menyambut kegiatan Ritual Bakar Tongkang, sebuah kegiatan tahunan di Bagan Siapiapi. Desain bangunan IP Plaza ini bisa dibilang tidak jauh berbeda dari bentuk Rumah Raja Baut tersebut.

IP Plaza di malam hari

Masjid Al-Ikhlas

Ada beberapa masjid besar yang ada di Bagan Siapiapi ini, dua di antaranya adalah Masjid Raya Al-Ihsan yang terletak di persimpangan Jl. Mesjid dan Jl. Lintas Bagan Siapiapi – Ujung Tanjung (lihat peta) serta Masjid Al-Ikhlas yang terletak di Jl. Utama (lihat peta). Kami singgah ke Masjid Al-Ikhlas untuk menunaikan sholat jamak Dzuhur dan Ashar. Masjid ini terlihat sangat khas dengan kubahnya yang berwarna tembaga. Bagian dalam masjid sangat bersih, terawat dan nyaman sekali. Sayangnya kolam dan taman di luar nampak kurang terurus sehingga digenangi air dan ditumbuhi banyak lumut.

Cantiknya Masjid Al-Ikhlas Bagan Siapiapi

Interior masjid yang bersih, nyaman dan luas

Cool your heart with pray

Hunting Kuliner Melayu

Di Bagan Siapiapi bisa dibilang tidak sulit sebenarnya mencari kuliner halal. Kita bisa memilih untuk makan di kedai kopi dengan tulisan/logo halal, restoran vegetarian maupun kuliner Melayu. Saya memilih untuk menyantap makan siang di RM. Nikmat yang menyajikan kuliner Melayu. Ada beragam pilihan ikan sungai dan ikan laut di sini, seperti asam pedas senangin, gulai kakap, gulai pari dan asam pedas patin. Sayang, karena sudah jam 2 siang, pilihan makanan menjadi terbatas karena banyak yang habis. Oya, belajar dari pengalaman makan di Siak Sri Indrapura, saya berusaha untuk menanyakan terlebih dahulu harga makanan di sini karena khawatir tiba-tiba harganya selangit (harga makanan tidak tertulis). Baca juga: 8 Wisata Seru Seharian di Siak Sri Indrapura

RM Nikmat menyajikan kuliner khas Melayu (berbagai jenis ikan)

Patung ikan di seberang RM Nikmat

Menyusuri pertokoan, pasar dan rumah-rumah bergaya Tionghoa-Melayu

Mulai tahun 2017, sejak digalakkannya konsep wisata Bagan Heritage oleh Dinas Pariwisata Provinsi Riau, banyak pertokoan, pasar dan rumah-rumah yang dirapikan dan mempercantik diri dengan cat warna-warni. Salah satu contohnya adalah pertokoan di Jl. Perniagaan yang sangat menarik perhatian kami. Bangunan pertokoan bergaya Tionghoa-Melayu ini sangat menarik untuk disusuri dan menjadi latar  untuk berfoto ria.

Candid dulu..

Bangunan pertokoan bergaya Tionghoa-Melayu hyang dicat warna-warni

Rumah-rumah di Bagan Siapiapi ini juga mirip dengan rumah-rumah di Selatpanjang. Meskipun kebanyakan rumah tidak berukuran luas, namun kesan damai dan nyaman terlihat dari rumah-rumah tersebut. Senang sekali melihatnya..

Rumah ala Bagan Siapiapi

Spot instagrammable, berasa di Penang

Hari Sabtu itu tampak beberapa penjual buah di sekitar Taman Kota dan Pasar Datuk Rubiah. Rupanya buah-buah tersebut merupakan hasil alam dari Kabupaten Rokan Hilir, khususnya nanas. Sepanjang perjalanan kami menuju Bagan Siapiapi, di kiri dan kanan jalan memang terlihat banyak sekali kebun nanas, berpadu padan dengan perkebunan kelapa sawit.

Pasar Pelita

Pasar Datuk Rubiah

Penjual buah menggelar dagangannya di tepi jalan

Bangunan Pemerintahan

Di pusat kota Bagan Siapiapi, terdapat beberapa bangunan pemerintahan yang berukuran besar dan umumnya bercat putih. Bangunan pemerintahan ini bergaya Melayu layaknya kebanyakan daerah lainnya di Riau. Kebanyakan bangunan pemerintahan di Bagan Siapiapi terkonsentrasi di Jl. Merdeka dan Jl. Mawar, seperti Kantor Bupati, Dekranasda, Kantor DPRD dan beberapa bank BUMN.

Kantor Bupati Rokan Hilir

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Rokan Hilir

Taman Kota Bagan Siapiapi

Menjajal Naik Betor

Kalau sudah sampai ke Bagan Siapiapi dan malas jalan kaki, sebetulnya seru kalau mencoba naik betornya. Meskipun di beberapa kota lain di Sumatera juga ada betor, seperti halnya di Medan, tapi mencoba di sini pasti berbeda karena jalanannya tidak ramai, tidak macet dan hampir tidak ada lampu merah (hanya lampu kuning kedap-kedip seharian). Informasinya sih sekali naik tarifnya sekitar 10-20 ribu tergantung jarak.

Betor menjadi kendaraan umum di Bagan Siapiapi

Suasana jalanan di Bagan Siapiapi

Satu lagi yang unik, banyak motor yang pakai payung begini.. Emak-emak with motorbike at an advance level

Bank BRI

Bank BRI yang ada di Bagan Siapiapi termasuk salah satu heritage trail lainnya. Kenapa? Karena kantor cabang bank ini merupakan cabang yang ke-2 setelah cabang pertama di Purwokerto. Pada era kolonial Belanda, bank ini bernama Bank Bagan Madjoe. Bangunan dengan dinding yang masih terbuat dari kayu khas rumah-rumah Melayu ini tampak masih kokoh berdiri di Jl. Merdeka.

Saat ini bangunan tersebut digunakan sebagai Rumah Dinas Pimpinan Bank BRI Cabang Bagan Siapiapi. Bangunan bank BRI yang baru telah dibangun dan berdiri tepat di seberang bangunan lama.

Bank BRI lama Bagan Siapiapi

Tugu “Perjanjian dengan Setan”

Selain kelenteng dan rumah kapitan, di Bagan Siapiapi ada juga peninggalan bersejarah lainnya, yaitu Tugu “Perjanjian dengan Setan”.  Terdapat 4 buah tugu sejenis yang tersebar di pusat kota Bagan Siapiapi. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, maksud dari tugu ini adalah sebagai perjanjian antara roh-roh orang yang mati di laut dengan penduduk dan biksu Buddha agar roh-roh tersebut tidak mengganggu kota Bagan Siapiapi lagi.

Salah satu tugu perjanjian di Bagan Siapiapi

Jembatan Pedamaran

Karena sudah puas berkeliling di pusat kota Bagan Siapiapi, kami juga menyempatkan singgah ke Jembatan Pedamaran yang searah dengan jalan pulang ke Duri. Jembatan ini membentang melintasi Sungai Rokan dan Pulau Pedamaran serta terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Jembatan I sepanjang 1 km dan Jembatan II sepanjang 1,4 km. Keduanya memiliki lebar 12 meter dengan pedestrian di sisi kanan dan kirinya. Tampak ukiran-ukiran khas Melayu dengan warna kuning dan hijau mendominasi jembatan ini. Jembatan ini kabarnya baru diresmikan tahun 2016 lalu pada saat acara tahunan Ritual Bakar Tongkang.

Jembatan Pedamaran I

Jembatan ini sepi dilalui kendaraan

Kompleks Perkantoran Batu 6

Sebelum memasuki pusat kota Bagan Siapiapi, terdapat sebuah bundaran dengan patung ikan berwarna merah muda. Dari bundaran inilah, dengan berbelok ke kiri kami menjumpai Kompleks Perkantoran Batu 6 yang dibangun beberapa tahun lalu namun bisa dibilang hampir semuanya tidak terpakai. Entah berapa ratus milyar dana yang dihabiskan untuk pembangunan sia-sia tersebut. Sedih..

Tampak sebuah tulisan besar Taman Budaya yang pertama kami jumpai. Bangunan tersebut berdiri megah dengan tembok putih dan atap berbentuk kubah berwarna emas. Di bagian tengahnya terdapat sebuah lapangan yang luas dengan keramik berwarna-warni. Sayang, genangan air karena drainase yang buruk menghalangi kami untuk berjalan di lapangan tersebut.

img_2741-1

Taman Budaya Rokan Hilir

Bangunan lainnya, entah apa, yang jelas tergenang air di seluruh sisinya

Yang paling membuat saya tercengang adalah keberadaan Kantor Bupati Rokan Hilir (yang baru). Bangunan ini menjulang setinggi 8 lantai dan tampak seperti White House di negeri Amerika sana. Sayang seribu sayang, bangunan ini pun tidak terpakai. Entah masalah pondasi yang ambles atau tidak kokoh disinyalir menjadi penyebab bangunan ini terbengkalai. Tampak beberapa ekor burung walet hinggap dan masuk, bersarang di bagian atas gedung ini. Saya hanya bisa bergumam, “Ini sih bisa jadi sarang walet terbesar di dunia, haha..”

Bisa dilihat betapa besarnya kantor bupati ini

Arsitekturnya bak White House di USA euy..

Kantor BAPPEDA

Kantor Perpustakaan dan Kearsipan

Patung elang di bundaran dekat kantor bupati

Berbagai jenis museum juga nampak di sepanjang jalan kawasan Batu 6 ini. Yang saya temui antara lain adalah Museum Tionghoa, Museum Ikan, Musem Budaya dan Museum Muslim. Semua museum tersebut tampak kosong dan tidak terawat. Sama seperti bangunan pemerintahan di sekitarnya, museum ini pun tidak terpakai. Padahal desain dan konsep bangunannya sangat tematik, sungguh sayang sekali..

Museum Sejarah

Museum Tionghoa

Museum Ikan

Museum Muslim

Oleh-oleh Khas Bagan Siapiapi

Berhubung kali ini saya jalan-jalan bersama gerombolan mbak-mbak, baru sampai di kota Bagan Siapiapi langsung toko oleh-oleh yang disambangi. Ternyata oleh-oleh khas Bagan Siapiapi ini enak-enak, ada kue bulan favorit saya dan bapak saya! Di bungkusnya tertera nama lain kue ini yaitu Kue Thua Piah. Selain kue bulan, ada juga kacang pukul yang sebenarnya cukup mirip dengan ting-ting kacang yang banyak ditemui di Jawa Tengah.

Setidaknya ada 2 toko oleh-oleh yang terkenal di sini, yaitu Juwita dan HH.

Aneka oleh-oleh di Toko HH

Oleh-oleh khas Bagan Siapiapi, kue bulan dan kacang pukul

Sekian catatan petualangan saya bersama teman-teman di kota tua Bagan Siapiapi. Jaraknya yang jauh, sekitar 250 km dari Pekanbaru terbayarkan sudah dengan wisata sejarah, budaya dan kuliner di sini. Semoga konsep wisata Bagan Heritage bisa semakin dikenal masyarakat Indonesia ❤

Anyway, sejauh ini akhirnya sudah 2 kota dan 6 kabupaten yang saya jelajahi di Riau. Masih ada 4 kabupaten lagi yang belum: Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu. Yuk mari tuntaskan menjelajahi Riau! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s