Segenggam Cerita dari Pekanbaru

Wah tidak terasa! Akhirnya genap sudah empat tahun saya tinggal di Riau. Masih belum terpikir apakah di tahun 2018 masih akan tetap di sini atau berpindah pulau untuk menjalin kehidupan yang baru di kota yang baru. Rencana itu ada, tapi belum pasti…

Kalau memang akan pindah, pasti saya akan merindukan kehidupan di Pekanbaru. Di kota inilah saya biasanya memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari seperti kulineran, belanja, servis kendaraan, nge-mall, nonton bioskop dan lain-lain. Karena belum sempat jalan-jalan lagi, sekalian saja saya jadikan tulisan ini sebagai ulasan tentang apa saja yang ada di Pekanbaru.

IMG_2182.JPG

Mancing dulu gan..

Nah, hingga saat ini, Pekanbaru sudah berkembang menjadi salah satu kota besar di Pulau Sumatra, setelah Medan, Palembang dan Batam. Meskipun pembangunan di sini belum semaju kota-kota tersebut, namun belakangan Pekanbaru menjadi salah satu kota yang menarik dan menjadi tujuan investasi banyak orang. Tidak heran kalau makin ke sini makin banyak juga pekerja pendatang dari daerah-daerah lain (termasuk saya hehe).

Oya, dari sekian banyak suka dan duka selama tinggal di Riau, khususnya di kota Pekanbaru, ada satu hal yang paling saya cintai dari kota ini. Apa itu?

Hampir tidak ada macet! Berhenti palingan hanya karena lampu merah perempatan jalan.

Tanpa adanya kemacetan yang berarti, jalan raya di Pekanbaru menjadi suatu kenikmatan tersendiri bagi saya yang sebelumnya hidup di Depok, Jakarta dan Bandung. Ke mall, ke bandara, ke tempat-tempat makan, semua bisa ditempuh dengan cepat, melesat dan melenggang manja di jalanan, hihi..

Fly over Jalan Sudirman Pekanbaru

Foto di atas merupakan foto dari jembatan layang di Jalan Jenderal Sudirman. Jalan ini merupakan satu ruas jalan arteri Pekanbaru yang terdiri dari dua jalur dan enam lajur. Jantung kota Pekanbaru terhubung langsung dengan Bandara SSK II melalui ruas jalan ini. Beberapa gedung pemerintahan yang unik, tempat-tempat makan terkenal, hotel dan mall ada semua di jalan ini.

Asal-usul Pekanbaru

Pekanbaru awalnya merupakan sebuah pasar (pekan) yang diramaikan oleh perantau-perantau Minangkabau dari dataran Sumatra Barat. Pasar ini bermula ramai di tepian Sungai Siak, sungai terdalam di Indonesia dan kini berkembang menjadi sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Senapelan. Sekarang ini, terdapat pasar pusat yang dikelola Pemda di kawasan Senapelan, yaitu Pasar Wisata/Pasar Bawah Pekanbaru.

Pasar Bawah Pekanbaru

Bahasa Minang yang mulanya umum digunakan di pasar di tepian Sungai Siak tersebut kemudian berkembang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat Pekanbaru hingga saat ini. Meskipun Riau dikenal sebagai Homeland of Melayu, namun rupanya Bahasa Melayu (dan orang-orang Suku Melayu) kebanyakan berada di daerah-daerah dan kota-kota di pesisir Riau, seperti Selatpanjang, Bengkalis, Sei Pakning dan lain-lain. Baca jugaRagam Kuliner Khas Melayu di Pekanbaru

Lalu, apa saja hal menarik di Pekanbaru yang bisa saya tuliskan? Banyak, nih..

1. Masjid yang Megah dan Cantik

Saya suka sekali dengan masjid-masjid yang ada di Riau. Pemerintah daerah dan masyarakat di sini sepertinya punya selera seni dan semangat yang tinggi dalam membangun masjid. Masjid yang paling besar dan terkenal hingga menjadi salah satu landmark kota Pekanbaru adalah Masjid Agung An-Nur. Masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1968 namun mengalami renovasi besar dan selesai pada tahun 2000 dengan bentuk yang sekarang ini kita lihat. Masjid ini sering disebut sebagai Taj Mahal-nya Riau karena kemiripannya dengan Taj Mahal di India. Masjid An-Nur memiliki kubah hijau yang khas dan luas bangunan sekitar 2.500 meter persegi.

Masjid Agung An-Nur Pekanbaru

Sure, it is one of the most beautiful mosque in the country 🙂

Di jalan protokol Pekanbaru juga terdapat masjid lainnya yang berkhubah khas warna Melayu alias kuning dan hijau. Masjid ini bernama Masjid Ar-Rahman yang terletak di Jl. Jendral Sudirman. Gaya bangunannya mendapat sentuhan Timur Tengah, India dan Melayu. Selain tempat sholat, masjid ini juga dijadikan sebagai Islamic Center Kota Pekanbaru dimana terdapat perpustakaan (koleksi buku-buku Islam) dan juga kantor Badan Amil Zakat.

Masjid Ar-Rahman Pekanbaru

Selain 2 masjid besar di atas, masjid lain yang tergolong cantik dan megah adalah Masjid An-Namira yang terletak di di Jalan Tuanku Tambusai. Masjid ini katanya sih milik perorangan. Dengan cat putih bersihnya yang dipadukan dengan warna hijau tua, masjid ini terkesan klasik dan unik. Bagian dalam masjid mengandalkan sirkulasi udara secara alami melalui lubang-lubang di dinding bangunan. Ada juga beberapa kipas angin yang dipasang di langit-langit masjid. Di sisi luar bangunan masjid, terdapat beberapa toko dengan warna yang senada dengan bangunan masjid. Toko-ini ini menjual berbagai barang kebutuhan ibadah dan busana muslim.

Masjid An-Namira Pekanbaru

Interior Masjid An-Namira Pekanbaru

2. Tugu Anti Korupsi

Tahun 2016 lalu, ada pembangunan 2 Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Pekanbaru yang diberi nama RTH Kaca Mayang dan RTH Tunjuk Ajar Integritas. Minimnya ruang terbuka untuk publik mungkin menjadi alasan pemerintah daerah untuk membangun fasilitas ini. Sayang, seperti kebanyakan proyek-proyek lainnya di Riau, setelah baru dibuka beberapa hari, fasilitas ini harus kembali ditutup. Entah karena alasan apa kemungkinan besar urusan birokrasi dan dinas mana yang akan merawat fasilitas ini. Namun sekarang ini taman tersebut sudah dibuka kembali untuk umum..

Tugu anti-korupsi

RTH di Jalan Riau

Lapangan yang luas

Pohonnya masih tipis-tipis

3. Danau Buatan Rumbai

Danau Buatan Rumbai bisa dibilang merupakan wisata alam yang paling dekat dari kos-kosan saya. Danau yang luasnya mencapai 15 Hektar ini terletak di daerah Limbungan, Kecamatan Rumbai Pesisir (lihat peta). Sesuai dengan namanya, danau ini memang betul-betul buatan dan berperan sebagai daerah tangkapan air untuk wilayah Rumbai. Sebenarnya nama asli danau ini adalah Danau Khayangan Lembah Sari. Tahun 2012 lalu, danau ini pernah menjadi venue olahraga Ski Air saat Riau menjadi tuan rumah ajang PON ke-18.

Sepedaan pagi menikmati pemandangan Danau Buatan Rumbai

4. Jembatan Siak dan Sungai Siak

Ada sebuah mitos pertama yang saya dengar saat menginjakkan kaki di tanah rantau ini.

Siapa yang sudah meminum air Sungai Siak, maka dia akan kembali lagi ke Pekanbaru”

Tapi lucunya, saya merasakan hal tersebut kebetulan terjadi pada saya. Tahun 2004 silam, saat masih menjadi pelajar belia di bangku SMP, saya memang pernah ke sini untuk ikut sebuah perlombaan. Tidak menyangka juga bahwa 10 tahun sejak itu, tahun 2014, saya mesti kembali ke sini sebagai pekerja rantau. Hmm….

Aliran Sungai Siak sebelum memasuki wilayah Pekanbaru

Sungai Siak membentang dari barat ke timur dan memisahkan daerah Pekanbaru kota dengan daerah Rumbai. Sungai ini menjadi berbagai sumber penghidupan bagi masyarakat, khususnya bagi nelayan sungai dan sebagai jalur transportasi (baik kapal barang maupun speed boat). Pekanbaru memiliki sebuah pelabuhan di Sungai ini yang dikenal dengan nama Pelabuhan Sei Duku. Pelabuhan ini menghubungkan Pekanbaru dengan beberapa daerah penting lainnya di Riau, seperti Perawang, Siak Sri Indrapura, Bengkalis dan Selatpanjang. Baca jugaMampir ke Selatpanjang si Kota Sagu di Kepulauan Meranti

Jembatan Siak 3

Rumah nelayan dan speed boat di Sungai Siak

5. Cagar Budaya Rumah Singgah Tuan Kadi

Di bawah Jembatan Siak 3, teradapat sebuah rumah tua yang menyimpan sejarah sehingga dijadikan Situs Cagar Budaya. Rumah tersebut adalah rumah Tuan Kadi yang menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II bilamana beliau berkunjung ke Pekanbaru dari tempat tinggalnya di Siak Sri Indrapura. Rumah tersebut tampak terawat namun selalu terkunci dan hanya akan dibuka untuk tamu-tamu/undangan khusus dan kegiatan tertentu. Padahal semestinya kalau dibuka, at least tiap akhir pekan, pasti seru juga untuk nambah-nambah pengetahuan.

Rumah Singgah Tuan Kadi di tepian Sungai Siak

Dominansi warna kuning – warna khas Melayu

6. Kantor Gubernur Riau (GubRi)

Saya rasa perkantoran ini bisa dibilang merupakan perkantoran gubernur yang paling megah di Indonesia. Kompleksnya luas, bangunannya besar-besar dan ada air mancur besar yang menghiasi halaman muka kompleks ini. Di seberangnya terdapat sebuah tugu yang dikenal dengan nama Tugu Zapin karya pematung handal Indonesia, yaitu I Nyoman Nuarta. Sedangkan di sampingnya terdapat sebuah kantor bank milik provinsi, yaitu Bank Riau-Kepri.

Kantor Gubernur Riau

Gedung lama Kantor Gubernur Riau

Sebuah ‘gedung lama’ dengan atap khas rumah Melayu bersandingan dengan sebuah ‘gedung baru’ yang dikenal dengan nama Menara Lancang Kuning. Gedung dengan 9 lantai ini akan terlihat sangat mencolok saat pertama datang di Pekanbaru. Arsitekturnya unik

Gedung baru Kantor Gubernur Riau alias Menara Lancang Kuning

Bank Riau Kepri/Menara Dang Merdu

7. Perpustakaan Provinsi – Puswil Soeman H.S.

Pustaka Wilayah (Puswil) Soeman H.S berada di jalan arteri Kota Pekanbaru, Jalan Jenderal Sudirman. Bangunan ini tampak megah mengisi panorama Kota Pekanbaru sejak tahun 2008, tahun peresmiannya oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu. Puswil ini merupakan salah satu perpustakaan terbesar di Indonesia dan saya rasa merupakan yang terbesar di luar Pulau Jawa.

DSCF1969.JPG

Pertama kali saya melihat bangunan ini saat menginjakkan kaki di Pekanbaru, saya menduga konsep bangunan ini menyerupai bentuk buku yang terbuka. Hampir separuh bagian dinding bangunan juga dihiasi dengan berbagai relief yang bertemakan semangat membaca di perpustakaan, kehidupan masyarakat Melayu di Riau serta sajak-sajak Melayu Riau. Koleksi bukunya memang tidak terlalu banyak, namun sudah tergolong cukup untuk bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. SelengkapnyaSemangat Membaca di Pustaka Wilayah Soeman H.S. Pekanbaru

8. Kompleks MTQ Provinsi Riau

Kompleks ini terdiri dari bangunan utama Anjung Seni Idrus Tintin dan berbagai anjungan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau. Sebenarnya bisa dibilang kompleks ini bisa menjadi semacam TMII level provinsi. Namun sayangnya kompleks ini tampak tidak terawat, banyak genangan air dan sebagian besar anjungan pun dalam kondisi tertutup. Beberapa terlihat sedang direnovasi dan dicat ulang. Hingga sekarang saya kurang tahu betul seperti apa bagian dalamnya. Termasuk yang potensial sebagai sarana wisata edukasi namun terbengkalai. Baca jugaBertualang Menyusuri Kota Tua Bagan Siapiapi – Kabupaten Rokan Hilir

Anjung Seni Idrus Tintin

Anjungan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau

9. Taman Budaya Provinsi Riau

Masih di Jalan Jenderal Sudirman, terdapat sebuah Taman Budaya yang diisi dengan rumah-rumah adat seperti halnya di MTQ Provinsi Riau yang saya paparkan di atas. Kondisinya tidak berbeda jauh, sama-sama tidak terawat. Tahun 2004 lalu saya pernah ke sini dan kondisinya pun memang tidak berbeda jauh dengan sekarang, hanya ada penambahan beberapa bangunan lain.

Taman Budaya

Sebenarnya kalau dikelola dengan baik, dibuat lebih modern dan disediakan kegiatan atau festival rutin (mingguan misalnya), tempat ini semestinya bisa menjadi daya tarik Pekanbaru. Semoga saja ke depannya fasilitas publik seperti ini bisa lebih tertata rapi, terawat dan aktif dengan berbagai kegiatan yang terbuka untuk umum..

Rumah adat yang cukup besar lho ini..

Rumah adat ala masyrakat Kabupaten Kampar

10. Pusat Latihan Gajah Minas

Di Riau terdapat beberapa kawasan konservasi gajah, seperti di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan juga Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas (lihat peta). Untuk PLG Minas, dapat diakses dari pusat kota Pekanbaru, sekitar 30 km perjalanan darat selama kira-kira 1 jam melalui Jalan Pekanbaru-Minas. Baca juga: Serunya Trekking dan Outbond di Hutan Hujan Tropis Riau!

IMG_4785

Memandikan gajah di PLG Minas

Konversi hutan dan lahan di Sumatra yang membabi buta, ditambah dengan konflik antara manusia dengan gajah yang tak kunjung usai, membentuk pandangan saya menjadi berbeda dari sebelumnya. Saya lebih merasa gajah-gajah itu bisa hidup lebih baik di pusat-pusat konservasi, atau bahkan sekedar taman safari. Kerakusan manusia di luar sana jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan harus membatasi ruang gerak gajah.

IMG_4986

Masuk hutan bareng Indah dan Jofie

11231692_10206402057363820_7564572756037366052_n

Melintasi sungai..

11855663_10206402056603801_3398759015836668104_n

Hello!

11. Mampir ke Siak Sri Indrapura

Kalau sudah sampai di Pekanbaru, rasanya sayang kalau belum singgah ke Siak Sri Indrapura. Di ‘kota’ inilah kerajaan Melayu Riau daratan pernah berjaya dan dikenal dengan nama Kesultanan Siak. Di Siak ada banyak ikon menarik seperti Istana Siak, Jembatan Siak, Waterfront City dan Bangunan Merah (pecinan). Baca juga8 Wisata Seru Seharian di Siak Sri Indrapura.

Sekilas Siak Sri Indrapura

Akhir kata…

Terima kasih Pekanbaru, Riau dan seisinya yang sudah menemani perjalanan karir dan kehidupan saya selama 4 tahun. Rasa suka, duka, senang, kesepian, galau dan bangga semuanya campur aduk jadi satu..

I ❤ Pekanbaru!

Advertisements

5 thoughts on “Segenggam Cerita dari Pekanbaru

    1. jamalsgetaway

      Terima kasih mas.. Jalan2 lah ke Riau kan deket..
      Hasil googling sih gini katanya hehe:
      Definisi/arti kata ‘kadi’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah n hakim yang mengadili perkara yang bersangkut-paut dengan agama Islam.

      Liked by 1 person

  1. Avant Garde

    Hehehe, sip sip, makasih mas Jamal 😀
    ini kebetulan emang rencana mau jalan ke pekanbaru sih
    dulu kantor wilayah saya di pekanbaru jadi beberapa kali jalan kesana
    tadinya iseng baca soal siak karena rencana mau kesana, eh jadi melipir kemana-mana hehe, menarik mas ulasan tentang sejarah dan budayanya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s