Menjelajahi Keindahan Alam Pulau Lingga

Akhirnya.. bisa pergi lagi mengeksplor keindahan alam negeri sendiri. Meskipun nggak jauh-jauh amat dari Pekanbaru, tapi ternyata pulau yang dikunjungi kali ini sangat tidak mengecewakan. Pulau Lingga namanya – terletak di bagian selatan dari gugusan Kepulauan Riau. Menghabiskan waktu selama 2 hari 2 malam di sini rasanya puas dan takjub. Saya pun jadi tersadar, bahwa ternyata ada pulau yang jarang dikunjungi orang di Kepulauan Riau namun punya keindahan alam yang eksotis. Oh ya, ternyata pulau ini juga dilintasi oleh garis equator (khatulistiwa) lho!

Sebagaimana telah saya ceritakan di artikel sebelumnya, saya tiba di Pulau Lingga ini setelah menempuh perjalanan udara Pekanbaru – Dabo Singkep yang kemudian dilanjut dengan penyebrangan dengan speed boat ke Pulau Lingga. Baca juga: Perjalanan dari Pekanbaru ke Pulau Lingga

Selepas speed boat yang saya tumpangi bersandar di Dermaga Penarik, saya langsung berjumpa dengan Hepri dan Mon, dua orang pemuda lokal yang akan menemani perjalanan saya menjelajahi Pulau Lingga. Hepri sudah membawa motor untuk mengajak saya weekend getaway di tempat yang anti-mainstream.

Pemandangan perbukitan di Daik, Lingga – tampak dari Dermaga Penarik

Berikut merupakan catatan saya ke beberapa destinasi alam menarik di Pulau Lingga!

Pantai Pasir Panjang

Destinasi alam pertama yang saya sambangi adalah Pantai Pasir Panjang. Kabarnya pantai ini merupakan pantai yang paling terkenal dan menjadi pantai favorit penduduk setempat serta wisatawan di Pulau Lingga. Anyway, pantai ini dikenal juga dengan nama Pantai Karang Bersulam meskipun saya sendiri tidak melihat batu karang di sekitar pantai ini.

Pantai, nyiur dan perbukitan di Pantai Pasir Panjang

Tidak jauh dari pelabuhan, hanya sekitar 2 kilometer, tampak jalan akses masuk yang masih berupa tanah di sisi kanan jalan raya. Dari jalan masuk ini, sebentar saja akhirnya saya bisa melihat keindahan Pantai Pasir Panjang. Warna airnya sih biasa saja, cenderung biru kehijauan karena tergolong daerah muara sungai juga. Tapi perpaduan antara bibir pantai (yang dihiasi pasir putih halus, bakau dan nyiur) dengan perbukitan Gunung Daik memberikan kesan eksotis yang unik dari pantai ini. Kagum! Itulah perasaan saya saat disuguhi oleh destinasi pertama di pulau ini.

Pemandangan yang menenangkan jiwa (literally, JIWA)

Di pantai ini, terdapat sebuah area berbukit yang bernama Bukit Cengkeh. Bukit ini dulunya merupakan tempat berdiri sebuah benteng pertahanan Belanda di era kolonialisme. Nah, dari bukit inilah kita bisa melihat lebih jelas pemandangan perbukitan Gunung Daik yang terkenal di Pulau Lingga. Tampak sebuah rumah nelayan/kelong dan perahu kayu dengan latar Gunung Daik yang kemudian menjadi objek menarik untuk saya foto. Cekrek!

Sebuah kelong/rumah nelayan dengan latar Gunung Daik

Saat berada di pantai, saya melihat beberapa ekor hewan yang mulanya saya kira katak karena melompat-lompat di genangan air berlumpur. Namun ternyata saya baru tahu kalau hewan tersebut merupakan seekor ikan, tepatnya ikan tembakul. Berdasarkan informasi internet, memang benar ikan ini  umumnya ditemukan di muara-muara sungai yang banyak pohon bakaunya atau di pulau-pulau karang yang ada bakaunya (oke, satu ilmu kehidupan tentang fauna-fauna aneh kian bertambah).

Lokasi: Dusun Malar, Desa Mepar, Kecamatan Lingga (lihat peta)

Tiket masuk: gratis

Air Terjun Resun

Selain pantai, Pulau Lingga juga punya beberapa air terjun yang lumayan bagus. Setidaknya ada 4 air terjun yang dikenal masyarakat di pulau ini, yaitu Air Terjun Resun, Makunggal, Jelutung dan Kado. Namun air terjun yang paling populer dan mudah diakses adalah Air Terjun Resun. Jarak dari kota Daik ke sini sekitar 12 kilometer saja dan dapat ditempuh selama 15-20 menit dengan menggunakan motor.

Tidak tinggi tapi tetap cantik

Ketinggian air terjun ini  memang jauh bila dibandingkan dengan banyak air terjun terkenal di Jawa, Bali ataupun Lombok. Namun bagi saya tetap ada sisi keindahan lain dari Air Terjun Resun. Kondisi lingkungan dan kualitas air di sini masih sangat asri dan bersih. Hutan di sekeliling air terjun pun masih tampak lebat dan rimbun. Bebatuan berwarna cokelat menjadi alas air terjun dan kolam di bawah air terjun. Goler-goler di air yang dingin dan jernih sambil bermain dengan ikan-ikan kecil di sini ini rasanya damai…. Lupa semua urusan kantor yang  memusingkan itu..

Bebatuan dan pasirnya khas sekali

Tampak atas ternyata lebih cantik lagi

Lokasi: Desa Resun, Kecamatan Lingga Utara (lihat peta)

Tiket masuk: 3000 rupiah/orang + 1000 rupiah untuk motor

Gunung Daik

Ini dia ciri khas utama Pulau Lingga, Gunung Daik yang bercabang tiga (meskipun sekilas hanya terlihat 2 cabang di puncaknya). Dari kunjungan saya ke Museum Linggam Cahaya, terdapat pantun dan sajak-sajak Melayu yang acap kali menyebutkan nama gunung ini. Salah satunya adalah pantun yang bermakna tentang budi pekerti baik seseorang yang akan dikenang meskipun orangnya sudah meninggal. Kebanyakan orang Melayu tentu akan mengenal pantun ini.

Pulau Pandan jauh di tengah

Gunung Daik bercabang tiga

Hancur badan di kandung tanah

Budi baik dikenang juga

Pemandangan Gunung Daik dari Desa Damnah

Pemandangan Gunung Daik seolah terlihat dari berbagai sudut di kota Daik. Namun menurut saya, spot terbaik dimana gunung ini terlihat instagrammable adalah dari kawasan cagar budaya Desa Damnah maupun Kantor Bupati.

Oh ya, Gunung Daik ini meskipun ketinggiannya hanya sekitar 1.200 meter, tapi ternyata tergolong sulit untuk didaki sampai ke puncak loh. Ya jelas saja sih ya, puncaknya aja kelihatan dari jauh curam begitu, kayak hampir 90 derajat. Mesti panjat tebing mungkin kalau mau sampai puncaknya itu.

Pemandangan Gunung Daik dari Kantor Bupati Lingga

Bersandingan dengan Gunung Daik, terdapat gunung lain yang lebih rendah ketinggiannya, yaitu Gunung Sepincan atau dikenal juga dengan nama Bukit Permata. Kenapa disebut Bukit Permata? Karena di sana banyak terdapat jenis batuan yang berkilau bak permata. Beberapa sampel batu-batu tersebut dipamerkan juga di Museum Linggam Cahaya.

Pemandangan Gunung Daik dari Museum Linggam Cahaya

Kota Daik

Jangan dibayangkan bahwa ‘kota’ Daik Lingga itu seperti Tanjung Pinang (ibukota Kepri) apalagi seperti Batam. Daik Lingga ini masih sangat jauh dari yang namanya konversi lahan menjadi pemukiman/pertokoan. Kawasan pertokoan hanya meliputi beberapa ruas jalan saja. Sedangkan pemukiman jaraknya berjauhan, tidak seperti di kota-kota lain dimana rumah saling nempel tembok. Pun memang rumah-rumah di Daik Lingga ini masih banyak yang berupa rumah panggung dan dibangun dari kayu.

Pagi yang tenang di Daik, Lingga

Meskipun beberapa area hutan sudah diubah menjadi kebun merica, sagu ataupun durian, tapi porsi pohon-pohon besar masih tetap terlihat mendominasi kota kecil ini. Kalau pagi di sini, rasanya sunyi, lalu lalang kendaraan juga minim. Kualitas udara masih bagus. Kampung-kampung kecil di Pulau Jawa rasanya tentu tidak sesunyi di sini.

Suasana pagi di Daik, Lingga

Saat saya sedang jalan kaki pagi hari di seputaran kota, saya sempat melihat monyet ekor panjang yang sedang lompat-lompatan bermain di perkebunan pohon sagu. Monyet jenis ini juga beberapa kali saya jumpai di hutan-hutan Riau (daratan) yang masih terjaga. Tidak hanya monyet, namun biawak, babi hutan dan ular pun masih sangat umum dijumpai di dekat rumah-rumah penduduk di Daik.

Pemandian Lubuk Papan

Di dekat Istana Damnah, terdapat sebuah tempat pemandian yang bernama Lubuk Papan. Tempat ini dulunya merupakan tempat mandinya para sultan Lingga. Mulanya saya kira pemandian ini airnya panas, eh ternyata air dingin. Batal deh rencana untuk mandi-mandi di sini. Haha.. Di pemandian ini, kabarnya dulu tidak ada beton-beton dan gazebo, jadi suasananya masih alami dan langsung menghadap ke hutan. Sedangkan sekarang sudah dibeton dan justru pengunjung jadi relatif berkurang. Mungkin ya karena sensasi mandinya jadi beda kali yah. Mungkin.. Heheh.

Pemandian Lubuk Papan, tempat mandi sultan juga ini

Lokasi: Desa Damnah, Kecamatan Lingga  (lihat peta)

Tiket masuk: 3000 rupiah/orang

Bukit Cening

Selain tempat-tempat yang saya sebutkan di atas, di Pulau Lingga juga ada yang namanya Bukit Cening dan merupakan salah satu kawasan Situs Cagar Budaya. Untuk mencapai bukit ini, sepeda motor mesti diparkirkan sejenak dan saya mesti melanjutkan jalan kaki sekitar 2-3 menit saja. Dari bukit ini juga kita bisa melihat pemandangan Gunung Daik dan Bukit Permata. Selain itu, dari sini juga bisa terlihat pemandangan ke laut, menghadap ke sebuah pulau bernama Pulau Kelombok.

Benteng Bukit Cening

Benteng ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah III (1761-1812) di Bukit Cening, Kampung Seranggung. Di dalam benteng ada 19 buah meriam yang bertuliskan tahun 1797. Bentuk bangunan benteng peninggalan Belanda di sini memang sudah tidak terlihat bekasnya sama sekali, ya tinggal meriam-meriam itulah yang menjadi objek peninggalan di Bukit Cening ini.

Pemandangan, jalan masuk, papan informasi dan meriam yang ada di Bukit Cening

Lokasi: Desa Merawang, Kecamatan Lingga  (lihat peta)

Tiket masuk: gratis

Oh ya, jikalau memang berniat untuk jalan-jalan di Pulau Lingga ini, bisa hubungi Hepri (081275804787) yang waktu itu juga menemani saya selama 2 hari. Perjalanan ini menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan karena bisa ditemani dan ngobrol-ngobrol dengan anak muda setempat 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Menjelajahi Keindahan Alam Pulau Lingga

  1. Avant Garde

    lingga nih kayaknya belum terlalu diekspos ya bang di kepri, padahal ada gunung, air terjun, peninggalan sejarahnya juga mantap 🙂 makasih info lengkap akomodasi dan penginapannya, mantap, sangat bermanfaat….

    Like

  2. Pingback: Menapaki Sejarah dan Kehidupan Masyarakat Pulau Lingga “Bunda Tanah Melayu” – jamalsgetaway

  3. Pingback: Menapaki Sejarah dan Kehidupan Masyarakat Pulau Lingga “Bunda Tanah Melayu” – jamalsgetaway

  4. Pingback: Perjalanan dari Batam ke Bintan – jamalsgetaway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s