Menapaki Sejarah dan Kehidupan Masyarakat Pulau Lingga “Bunda Tanah Melayu”

lain punya wisata alam yang menarik, Pulau Lingga juga kaya akan wisata sejarah dan budaya.  Pulau Lingga punya slogan sebagai Bunda Tanah Melayu. Slogan ini dibuat karena memang kehidupan masyarakat di Kesultanan Melayu memang mulanya berawal di pulau ini. Di Pulau Lingga, pemakaian bahasa Melayu masih sangat kental dan berbagai kegiataan terkait kebudayaan Melayu seringkali diselenggarakan di sini. Kebudayaan Melayu lekat dengan banyak akulturasi dari budaya Arab/Islam, seperti tarian, pemakaian bahasa serapan, prosesi pernikahan dan lain-lain. Di Pulau Lingga, seperti kebanyakan kota lain di Riau dan Kepulauan Riau, nama jalan pun terdiri dari 2 teks, yaitu huruf latin Bahasa Indonesia dan huruf Arab Melayu.

Plang jalan dengan teks Arab Melayu

Kebetulan jalan-jalan kali ini saya ditemani kenalan dari Instagram, yaitu @bunkhepri, anak Melayu asli dari Pulau Lingga. Karena ditemani langsung dengan orang lokal, jadilah perjalanan wisata sejarah dan budaya di Pulau Lingga ini terasa lebih mudah, mantap dan menyenangkan. Baca juga: Menjelajahi Keindahan Alam Pulau Lingga

Masjid Jami’ Sultan Lingga

Salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi di Pulau Lingga adalah Masjid Jami’ Sultan Lingga. Masjid ini merupakan masjid bersejarah bagi masyarakat di Kepulauan Riau, khususnya di Pulau Lingga. Masjid yang terletak di pusat kota Daik ini (lihat peta) merupakan peninggalan dari Sultan Mahmud Syah bin Abdul Jalil bin Sulaiman( Sultan Mahmud Syah III) dan dibangun pada tahun 1800. Sultan Mahmud Syah III merupakan salah satu sultan yang memimpin wilayah Lingga, Johor hingga Pahang. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di link ini.

Saat kunjungan saya, tampak masjid ini baru dicat ulang dengan warna dominan kuning dan hijau yang mencerminkan warna khas Melayu. Tembok beton tampak mengelilingi setiap sisi masjid ini. Meskipun ukurannya kecil, namun sholat di sini rasanya tenang dan damai. Lantai bagian dalam (ruang utama) masjid digelari dengan karpet hijau muda sedangkan bagian serambi masjid dibiarkan terlihat lantai asli yang terbuat dari batu pualam putih. Baca juga: Mengenal Peninggalan Kesultanan Melayu di Pulau Penyengat

Masjid Jami’ Sultan Lingga

Tampak depan bangunan masjid

Di bagian belakang bangunan masjid terdapat beberapa makam. Salah satunya merupakan makam Sultan Mahmud Syah III yang dipisahkan dengan dinding pembatas dan diberi atap pelindung. Mulanya area pemakaman ini diperuntukkan bagi keluarga kesultanan namun belakangan sebagian area juga diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Makam Sultan Mahmud Syah III

Surau Al-Falah Kampung Bugis

Selain masjid jami’, tempat ibadah yang saya singgahi saat berada di pusat kota Daik adalah Surau Al-Falah di Kampung Bugis. Di Pulau Lingga sendiri memang terdapat komunitas masyarakat Bugis yang cukup besar. Anggota keluarga kesultanan pun tidak sepenuhnya orang-orang Melayu, namun ada juga orang-orang Bugis. Seperti halnya Masjid Jami’ Sultan Lingga, surau ini pun bercat hijau dan kuning yang merupakan warna khas Melayu.

Gerbang depan Surau Al-Falah di Kampung Bugis

Bangunan Surau Al-Falah Kampung Bugis

Bangunan Cagar Budaya berupa Rumah Panggung

Di Daik, Lingga terdapat beberapa bangunan termasuk rumah panggung kayu yang dijadikan cagar budaya oleh pemerintah daerah setempat. Hal ini dikarenakan bangunan-bangunan tersebut sudah berdiri lama sejak era kesultanan atau merupakan rumah turun-temurun orang yang berpengaruh di Lingga.

Bangunan Cagar Budaya berupa rumah panggung kayu

Sehari sebelumnya, kami sempat ngobrol dengan Hepri agar bisa dibantu ditemani untuk melihat-lihat (bagian dalam) salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Daik. Setelah mengontak sang empunya rumah, keesokannya kami bertamu ke salah satu rumah panggung kayu. Rumah itu merupakan milik Mak Engku dan keluarganya yang masih keturunan dari Tengku Muhammad Saleh Damnah. Mak Engku banyak bercerita tentang sejarah rumah yang dihuninya serta beberapa orang leluhurnya yang merupakan tokoh agama di Daik, Lingga. Ia pun bercerita tentang bagaimana keluarga-keluarga di Lingga, Singapura dan Malaysia terputus hubungan komunikasi pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia. Hingga saat ini bahkan masih ada orang-orang dari Malaysia (khususnya Johor dan Pahang) yang datang ke Pulau Lingga untuk mencari keluarganya yang sempat terpisah pada masa konfrontasi tersebut.

Makan Siang Nasi Lemak

Selepas ngobrol-ngobrol dengan Mak Engku di rumahnya, tidak terasa waktu sudah lebih dari jam 12 siang. Saatnya makan siang. Mulanya saya berencana mencari tempat makan yang agak jauh. Eh setelah mendengar Mak Engku memiliki kedai nasi lemak di depan rumahnya, saya segera tergoda. Nasi lemak!!

Di sini nasi lemak disajikan dengan pilihan telur rebus/dadar dan ikan yang diberikan sambal khas nasi lemak. Seporsi nasi lemak dengan segelas teh manis di kedai Mak Engku saat itu harganya sekitar 15 ribu rupiah.

Nasi lemak  bukan cuma untuk sarapan kan 🙂

Museum Linggam Cahaya

Pulau Lingga memiliki sebuah museum yang tergolong baru (bangunan baru diresmikan sekitar tahun 2015), namanya Museum Linggam Cahaya. Museum ini berada di dalam kompleks Istana Damnah, tepatnya di Jalan Raja Muhammad Yusuf.

Menurut saya, museum ini merupakan museum terbaik di Kepulauan Riau – sangat direkomendasikan untuk singgah ke sini. Setelah mengunjungi museum ini, pasti rasanya puas melihat koleksi barangnya. Selain itu, uang masuk ke museum ini juga sangat terjangkau, hanya 3 ribu rupiah per orang. Barang-barang bawaan seperti tas dapat dititipkan di loker dan pengunjung akan diberikan kunci loker, jadi bisa keliling museum tanpa berat-berat membawa tas. Oya, saat saya ke sana sih penjaganya bilang untuk tidak mengambil foto kecuali fokusnya ke orangnya, bukan barangnya. Hmm, jadi terpaksa mesti nampang di tulisan kali ini :p

Tampak depan bangunan Museum Linggam Cahaya

Barang-barang yang disimpan di Museum Linggam Cahaya cukup bervariasi namun semuanya berkaitan dengan sejarah, kebudayaan dan alam Pulau Lingga (terdapat sebagian juga tentang Pulau Singkep). Dari sisi sejarah, Museum Linggam Cahaya menyuguhkan beberapa koleksi, seperti barang-barang peninggalan zaman Kesultanan Melayu Lingga, foto-foto para sultan dan sejarah kejayaan PT. Timah di Dabo Singkep. Dari sisi kebudayaan, ada berbagai miniatur peralatan dan pakaian masyarakat Melayu Lingga, permainan tradisional dan lain-lain. Sedangkan dari sisi alam, di museum ini dipamerkan koleksi seperti fosil hewan laut yang ada di perairan Pulau Lingga serta jenis batu-batu alam di Pulau Lingga.

Koleksi foto-fotonya banyak euy

Barang-barang kuno di zaman kesultanan

Untuk jadwal buka, Museum Linggam Cahaya buka setiap hari dengan jadwal jam buka di bawah ini.

  • Senin – Kamis buka jam 08.00 – 16.00
  • Jumat buka jam 08.00 – 11.30 dilanjut jam 13.00 – 16.30
  • Sabtu dan Minggu buka jam 08.30 – 16.00

Oya, jangan lupa untuk memberikan uang tips seikhlasnya untuk pemandu museum. Pemandu di sini nggak memaksa atau ngintil untuk menjelaskan barang-barang di museum seperti halnya pemandu di beberapa tempat wisata di Indonesia. Kalau saya pribadi beranggapan, tidak akan rugi memberikan uang bagi orang-orang yang bekerja dalam melestarikan budaya bangsa karena mereka sangat patut diapresiasi lebih!

Makam Merah

Masih dalam satu jalan yang sama dengan Museum Linggam Cahaya, terdapat sebuah makam Yang Dipertuan Muda Riau kesepuluh, yaitu Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi. Keunikan yang ada di makam ini adalah pada pagarnya. Karena tiap ruas rangkaian pagar memiliki jumlah tiang yang tidak sama. Saat saya mencoba hitung sendiri, jumlahnya antara 11 atau 12 tiap bagian pagar.

Situs Peninggalan Istana Damnah

Istana Damnah merupakan destinasi yang wajib dikunjungi saat di Daik, Lingga. Istana Damnah ini dibangun pada masa Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah III. Istana Damnah terdiri dari 2 bagian, yaitu bangunan istana dan semacam serambi/pendopo/bangsal di bagian depan. Pemerintah daerah di sini terlihat sangat niat dalam menata kawasan situs peninggalan Istana Damnah. Sebelum masuk kawasan ini, sebuah gerbang besar yang sangat khas etnik Melayu menyambut saya.

Gerbang depan memasuki Kompleks Istana Damnah

Di kompleks ini, ada bangunan Istana Damnah replika dan juga yang aslinya. Yang replika ini sengaja dibangun untuk menggambarkan seperti apa bentuk, desain dan juga bagian interior istana. Sedangkan yang aslinya terletak persis di sebelah bangunan replikanya dan tersisa bagian tangga, pondasi, beberapa bagian lantai, dapur dan juga tempat mandi. Selengkapnya mengenai Istana Damnah bisa di lihat di sini.

Bangunan Istana Damnah (replika)

Sejenis pendopo/bangsal di Istana Damnah (replika)

Seperti di Pulau Penyengat, ada tempat nikahan ala Melayu

Yang tersisa dari Istanah Damnah (asli)

Tangga di bagian depan Istana Damnah (asli)

Sisa-sisa pondasi rumah panggung bangunan Istana Damnah (asli)

Guess what?

Makan Aneka Jenis Hidangan Ikan

Masyarakat Melayu memang gemar makan bermacam-macam hidangan olahan ikan. Kalau di Pekanbaru/Riau daratan kebanyakan hidangan ikan menggunakan ikan air tawar, seperti patin, baung dan gabus/toman. Sedangkan di Pulau Lingga ini, karena posisi geografisnya yang dikelilingi laut dan sungai di sana juga tidak sebesar sungai di Sumatra, panganan ikan umumnya menggunakan ikan laut. Beberapa jenis ikan laut yang umum ditemukan di Pulau Lingga antara lain ikan tongkol, ikan pari, ikan kerapu dan ikan tamban.

Beberapa jenis hidangan ikan: digulai, cabe merah dan cabe hijau

Selain masakan ikan yang berkuah/bersambal, tentunya ada juga ikan salai di sini. Sudah biasa sih lihat ikan salai di Pekanbaru, tapi baru kali ini saya coba makan ikan salai. Di Pulau Lingga, masyarakat banyak yang mengolah ikan laut dengan cara disalai. Salai sendiri simpelnya adalah cara memasak dengan dibakar/diasap. Ikan yang digunakan di sini namanya ikan tamban dan ukurannya tidak besar dan tidak terlalu kecil juga. Cukup untuk dijadikan lauk makan atau sekedar cemilan :p

Pembuatan ikan salai

Beli setusuk isi 20 ekor ikan tamban

Menikmati Kopi Balang

Pada dasarnya tidak ada yang khas dari bahan kopi balang ini, alias sama saja dengan kedai kopi pada umumnya. Tapi yang unik di sini adalah wadah penyajian kopi yang menggunakan botol (dulunya botol logam, kalau sekarang botol bekas sirup). Orang-orang di Pulau Lingga biasanya menikmati kopi ini di malam hari serta ditemani dengan suguhan cemilan seperti roti ataupun ubi goreng.

Kopi Balang yang terkenal di Daik, Lingga

Pulau Mepar dan Benteng Lekok

Pulau Mepar atau Desa Mepar merupakan sebuah pulau kecil yang berjarak tak lebih dari 1,5  kilometer dari Pulau Lingga, tepatnya dari Pelabuhan Tanjung Buton. Pulau Mepar dihuni oleh beberapa puluh keluarga yang sebagian tinggal di rumah kayu terapung sedangkan sebagian lainnya di wilayah daratan pulau. Pulau ini dulunya dijadikan benteng pertahanan pada zaman penjajahan Belanda. Konon di pulau ini terdapat 4 buah benteng pertahanan yang terletak di 4 sisi pulau. Saat ini, pemerintah Kabupaten Lingga telah membuat akses jalan ke daerah bukit, dimana terdapat situs cagar budaya, yaitu Benteng Lekok. Di sini terdapat beberapa buah meriam seperti halnya yang ada di Bukit Cening.

Benteng Lekok sebagai situs cagar budaya

Meriam di Benteng Lekok

Benteng Bukit Cening

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya di artikel sebelumnya, di kawasan Kesultanan Lingga memang terdapat beberapa daerah yang dijadikan benteng pertahanan melawan penjajah, selain Benteng Lekok, ada juga benteng yang lebih besar yaitu Benteng Bukit Cengkeh dan Bukit Cening. Benteng Bukit Cening dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah III (1761-1812) di Bukit Cening, Kampung Seranggung. Di dalam benteng ada 19 buah meriam yang bertuliskan tahun 1797. Bentuk bangunan benteng peninggalan Belanda di sini memang sudah tidak terlihat bekasnya sama sekali, ya tinggal meriam-meriam itulah yang menjadi objek peninggalan di Bukit Cening ini.

Situs cagar budaya Benteng Bukit Cening

Beberapa meriam yang ada Benteng Bukit Cening

Kompetisi Gasing

Nah, yang terakhir ini sebenarnya merupakan kegiatan setahun sekali di Pulau Lingga, tepatnya di Daik. Kebetulan saat saya datang ke sana, tepat sedang diselenggarakan Kompetisi Gasing. Kompetisi ini diadakan di sebuah lapangan terbuka di perkampungan masyarakat Daik. Gasing yang dipakai terbuat dari kayu dan ukurannya lebih besar dibandingkan gasing yang saya jadikan permainan saat masih SD. Permainannya saya kurang paham, tapi sepertinya peserta beradu gasing siapa yang bisa bertahan muter lebih lama dan bisa menyerang gasing lawan. Mungkin begitu.. Haha kurang paham.

Kompetisi gasing di Daik, Lingga

Well, that is all I know about culture and history in Lingga! Berkesan. Senang rasanya bisa berkeliling Pulau Lingga (dan Pulau Mepar) selama 2 hari. Masyarakat di sini ramah-ramah meskipun sepertinya masih agak kaku melihat orang baru yang sedang berwisata di sana. Mungkin karena wisatawan di sini belum terlalu ramai. Padahal potensi wisata di sini cukup menarik dan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat (kalau dikelola dengan serius dan adil bagi semua kalangan masyarakat setempat).

Dan.. setidaknya, saya harap  dengan tulisan yang saya buat ini bisa membantu menyebarkan informasi tentang wisata sejarah dan budaya di Pulau Lingga, Bunda Tanah Melayu 🙂

 

Advertisements

10 thoughts on “Menapaki Sejarah dan Kehidupan Masyarakat Pulau Lingga “Bunda Tanah Melayu”

  1. Pingback: Mengenal Peninggalan Kesultanan Melayu di Pulau Penyengat – jamalsgetaway

  2. Pingback: Melaka ke Singapura dengan Bus – jamalsgetaway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s