Akhir Pekan di Batusangkar

Weekend getaway kali ini, saya pergi ke Batusangkar, Sumatera barat (Sumbar). Meskipun sudah pernah dua kali jalan-jalan ke Sumbar sama teman-teman, tapi baru 2 kota yang saya datangi, yaitu Payakumbuh dan Bukittinggi (plus Kabupaten Agam tempatnya Danau Maninjau). Dalam penilaian saya pribadi, Sumbar merupakan provinsi yang sangat beruntung karena dikaruniai bentang alam yang luar biasa. Perbukitan di sana-sini, pantai yang indah, danau-danau yang luas dan indah serta udara sejuk yang membuat orang betah bersantai-santai di sini. Belum lagi kebudayaan dan kulinernya, siapa sih yang tidak mengenal budaya Minangkabau dan masakan Padang? 🙂

Meskipun begitu, yang saya paling males kalau jalan-jalan ke Sumbar, khususnya dari Pekanbaru tempat saya tinggal sekarang adalah….jalur jalannya yang berkelok-kelok luar biasa. Dari Pekanbaru ke Batusangkar harus menempuh jarak 220 km dengan hampir separuhnya adalah jalanan berkelok-kelok. Waktu tempuh? Kira-kira 6 jam perjalanan, cukup untuk  menghabiskan tenaga kalau mengemudi sendiri. Kebetulan, dan sama seperti jalan-jalan ke Sumbar sebelumnya, saya tidak nyetir sendiri karena nggak sanggup dan masih takut dengan jalanan belok-belok dan banyak truk besar.

Jembatan Kelok 9 – mega infrastruktur penghubung Riau dengan Sumatera Barat

Batusangkar merupakan ibukota  dari Kabupaten Tanah Datar dan memiliki beberapa destinasi andalan yang menarik untuk dikunjungi. Yang paling membuat saya tertarik ke sini adalah keberadaan Istano Basa Pagaruyung yang terkenal itu. Istana ini menjadi pusat dari kerajaan Minangkabau dulu, yaitu Kerajaan Pagaruyung. Batusangkar pada tahun 1800an juga pernah diduduki oleh Belanda dan menjadi salah satu lokasi terjadinya Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Jadi inget pelajaran sejarah jaman SD kan..

Setibanya di Batusangkar, saya singgah sebentar di sebuah tempat makan yang letaknya di tepian persawahan, tepatnya di Jalan Raya Batusangkar-Bukittinggi KM 4 (Sungai Tarab). Tempat makan ini sepertinya memang menjual pemandangan persawahan saja sih. Makanannya biasa banget dan saya pribadi nggak doyan.

Persawahan di Batusangkar

Beres makan siang, waktunya explore Batusangkar!

Kincia Kamba Tigo

Tempat yang pertama saya datangi adalah Kincia Kamba Tigo alias kincir air kembar tiga. Kincir air kembar tiga ini berada di daerah Jorong Padang Datar, Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan (lihat peta). Kincir air ini dibuat oleh masyarakat setempat sebagai sarana untuk mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan di musholla, masjid, irigasi dan lain-lain. Tiga buah kincir berbahan kayu dan bambu ini terbilang cukup besar, berdiri di tepian Sungai Batang Ombilin  dan persawahan. Hamparan sawah yang luas saat itu sedang berwarna hijau kekuningan. Cantik sekali..

Hello

Untuk masuk ke lokasi kincir air ini tidak begitu sulit. Dari jalan raya ada jalan kecil masuk yang masih bisa dilalui mobil. Masyarakat setempat tidak memungut biaya masuk di sini, tapi cukup membayar uang parkir kendaraan. Kemarin saya parkir mobil dipatok 10 ribu rupiah. Tergolong mahal untuk parkiran, tapi toh tidak seberapa hitung-hitung untuk pemasukan masyarakat lokal juga kan 🙂

Anak-anak bermain air dengan riang di dekat kincir
Danau Singkarak

Selepas dari Kincia Kamba Tigo, saya bergegas untuk melanjutkan jalan-jalan ke Danau Singkarak. Penasaran saja sih, kayak apa danau yang sering saya dengar namanya dari event tahunan balap sepeda Tour de Singkarak ini. Danau Singkarak ini sangat luas, terletak di dua kabupaten di Sumbar, yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok (lihat peta). Di Sumatera, danau ini merupakan yang terluas kedua, setelah Danau Toba di Sumatera Utara tentunya. Air dari danau ini mengalir juga ke Sungai Batang Ombilin, tempat kincir air kembar tiga yang saya kunjungi sebelumnya.

Anak-anak berenang di Danau Singkarak

Saat itu saya hanya sempat melihat danau ini dari sisi Timur, yakni dari jalan raya penghubung Padang Panjang dan Solok. Tampak ada banyak warga setempat yang sedang memancing ikan dan juga anak-anak kecil yang berenang di tepian danau ini. Sampah plastik dan kemasan lainnya tampak menutupi beberapa sudut danau, sayang sekali.. Oh ya, di sekitar Danau Singkarak ini juga banyak orang yang jualan ikan bilih (semacam ikan teri) yang merupakan ikan endemik di danau ini dan Danau Maninjau.

Nagari Tuo Pariangan

Bertolak dari Danau Singkarak, saya melanjutkan perjalanan sore menjelang maghrib ke sebuah desa yang belakangan terkenal karena disebut-sebut sebagai desa terindah versi Budget Travel pada tahun 2012. Desa ini terletak di lereng Gunung Marapi dan bernama Nagari Tuo Pariangan. Kalau dilihat memang ada banyak rumah penduduk di desa ini yang masih menggunakan atap gonjong alias atap berujung lancip. Kalau dari zaman kecil dulu, di pelajaran sekolah disebutkan bahwa rumah adat Minangkabau disebut dengan nama rumah gadang. Gadang sendiri artinya adalah besar.

Gerbang memasuki Desa Nagari Tuo Pariangan

Dari atas bukit tempat parkir kendaraan, tampak beberapa rumah penduduk yang masih memiliki atap gonjong/lancip namun banyak juga yang berwujud layaknya rumah biasa yang berdinding beton dan beratapkan seng/genteng. Sebuah bangunan besar dengan atap limas segi empat bertingkat menyita perhatian saya. Bangunan itu adalah sebuah masjid yang bernama Masjid Ishlah dan merupakan salah satu masjid tertua di ranah Minang. Rumah-rumah penduduk tampak dibangun mengelilingi masjid ini.

Pemandangan Nagari Tuo Pariangan dari atas bukit
Rumah gonjong dan Masjid Ishlah

Mengutip informasi dari website duniamasjid, Masjid Ishlah dibangun oleh seorang tokoh pengembang agama Islam di ranah Minang, yaitu Syekh Burhanuddin. Masjid ini memiliki ukuran 16 x 24 m dengan empat buah tiang penyangga yang terbuat dari kayu andalas. Untuk berwudhu sebelum sholat di masjid ini, ternyata ada tempat pancuran air di seberang masjid. Air ini mengalir dari Gunung Marapi dan masih bersih sekali. Di dekat pancuran air wudhu ini tampak dibangun sebuah pemandian umum yang digunakan masyarakat setempat untuk keperluan MCK.

Masjid Ishlah

Di Nagari Tuo Pariangan ini juga ada banyak rumah-rumah peninggalan pemuka adat setempat. Dindin yang kebanyakan masih dibuat dari kayu kelapa dan atap gonjong/lancip yang terbuat dari seng mendominasi pemandangan di sini. Oh ya, kekurangan dari desa ini menurut saya adalah minimnya opsi kuliner. Hanya terdapat beberapa buah warung rumahan yang menjual makanan/minuman ringan di sini.

Rumah salah satu petinggi adat
Nuansa Minangnya kerasa banget kan
Istano Basa Pagaruyung

Setelah malam datang, saya segera menuju hotel di pusat kota Batusangkar untuk istirahat. Rencana untuk besok pagi adalah mengunjungi Istano Basa Pagaruyung dan kemudian pulang ke Pekanbaru. Istano Basa Pagaruyung merupakan landmark yang sangat terkenal di Sumatera Barat, selain Jam Gadang di Bukittinggi dan Masjid Raya di Padang. Akhirnya, kesampaian juga saya datang ke sini..

Sooooo happy to visit this place/this palace!

Istano Basa Pagaruyung ini buka setiap hari dari pagi jam 8 sampai sore dengan harga tiket masuk sebesar 15 ribu rupiah. Istana ini memang cukup besar, setidaknya cukup jauh lebih besar dari Istana Siak yang ada di Riau. Hampir seluruh material yang digunakan untuk membangun istana ini terbuat dari bagian-bagian pohon, mulai dari lantai, dinding hingga atapnya.

Beauty of Minang fabrics
Beberapa patung dengan pakaian adat di Kerajaan Pagaruyung
So ethnic!
My current display picture hehe..
Benteng Van Der Capellen

Tempat yang terakhir saya datangi selama di Batusangkar adalah sebuah benteng peninggalan Belanda yang bernama Benteng Van Der Capellen. Nama ini dulunya juga merupakan nama dari wilayah Batusangkar ternyata. Tampak dari luar benteng ini ukurannya kecil saja dan terletak di daerah berbukit. Tidak ada yang bisa saya lakukan di sini, bentengnya juga ditutup dan tampaknya tidak ada yang bisa dibaca-baca atau dilihat-lihat selain dinding luarnya saja..

Time to go back! 6 jam perjalanan lagi untuk sampai kosan… Hmmhh..

Advertisements

5 thoughts on “Akhir Pekan di Batusangkar

  1. Wah, bagian yg bukit2 belum nih kesana..
    Klo yg bagian pesisir udah 👉https://rumahpintar256.wordpress.com/2018/10/05/jalan-jalan-ke-kota-padang-dan-pesisir-sumatera-barat/

    Jadikan bookmark juga nih..insya Allah kesana lagi ..amin

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s