Terkesima Memandang Bentang Alam Payakumbuh dan Bukittinggi

Sebelum tinggal di Riau, saya tidak pernah menyangka Sumatra Barat merupakan provinsi dengan bentang alam yang luar biasa. Maklum dari kecil saya tinggal dan hidup di Depok yang ibaratnya nengok ke kanan kali Ciliwung, kiri kebon pisang, depan belakang rumah juga isinya perumnas sama BTN ๐Ÿ˜›

Sumatera Barat dalam kunjungan pertama saya di akhir 2014 itu ke Bukittinggi. Perjalanan darat dari Pekanbaru, Riau ke Sumatra Barat sangat berkesan karena semacam ada pola yang terlihat jelas dari kedua provinsi ini. Di Riau lanskapnya cenderung dataran rendah, beberapa kali bertemu kebun kelapa sawit, jalanan lurus-lurus dan terkadang berlubang. Sedangkan saat masuk Sumatra Barat, perbukitan nan indah menyambut, hutan-hutan masih terjaga, jalanan berkelok-kelok dan kondisinya pun mayoritas mulus!

Bagi saya, ini satu provinsi nggak ada bagian yang nggak bagus deh, sepanjang mata memandang ialah sawah, perbukitan, tebing, lereng, air terjun dan tentunya rumah-rumah beratap lancip khas Rumah Gadang. Belakangan saya baru tahu istilah untuk atap lancip tersebut adalah gonjong.

img_6558
Rumah beratap gonjong di Nagari Tuo Pariangan, Batusangkar

Kalau sebelumnya saya sudah pernah menuliskan tentangย Akhir Pekan di Batusangkar, kali ini saya harus menuliskan pengalaman datang ke daerah lain di Sumatra Barat, yaitu Bukittinggi dan Payakumbuh. Sayang rasanya kalau pengalaman ke tempat-tempat indah di Ranah Minang ini tidak tertuangkan dalam bentuk tulisan dan galeri foto ๐Ÿ™‚

Jembatan Kelok 9

Jembatan Kelok 9 merupakan mega proyek yang dikerjakan sejak tahun 2003 sampai tahun 2013 (wew 10 tahun baru jadi??). Jembatan ini menjadi penghubung krusial antara Riau dengan Sumatra Barat dan diresmikan oleh presiden Indonesia ke-6, yaitu Bapak SBY. Beberapa tahun belakangan di tepian jalan layang ini semakin menjamur pedagang kaki lima yang kebanyakan berjualan mie instan dan jagung bakar. Secara estetika dan keamanan memang rada ganggu sih, tapi enak juga sih berhenti di tepian lalu makan mie instan dengan suguhan panorama bukit nan elok.

Jembatan Kelok 9

Cantiknya Lembah Harau

Tidak perlu diragukan lagi, Lembah Harau harus masuk bucket list saat menjelajah Sumatra Barat. Lembah ini merupakan salah satu yang terindah di Indonesia. Pemandangan tebing-tebing karst yang tinggi menjulang berpadu padan dengan hamparan persawahan yang luas membuat Lembah Harau ini terasa tiada duanya. Lembah ini merupakan tempat terfavorit saya di Payakumbuh. Eh, sebenarnya sih secara administratif masuknya ke wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota, tapi saya masukkan juga ke artikel ini karena pada dasarnya Kota Payakumbuh pun merupakan hasil pemekaran dari kabupaten tersebut.

Hamparan sawah dan perbukitan karst di Lembah Harau
Harau valley made our day

Udara di kawasan lembah ini sejuk dan segar, terlindung cukup jauh dari jalan besar dan ramainya lalu lalang kendaraan bermotor. Belakangan saya ketahui dari teman bahwa ada beberapa penginapan (homestay) sederhana dan murah yang memungkinkan kita untuk bermalam di tengah lembah cantik ini.

Naik perahu dayung sambil menikmati sejuknya udara di Lembah Harau

Bukittinggi

Belum sah rasanya berkunjung ke Sumatra Barat kalau belum ke Bukittinggi. Kota ini rasanya lebih bersejarah dibanding ibukota provinsinya, Padang. Di kota inilah founding father Indonesia lahir. Ya, Bapak Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia lahir tahun 1902 di kota yang indah nan permai ini.

Bukit Takuruang

Beberapa tempat yang paling berekesan di Bukittinggi bagi saya adalah Ngarai Sianok, Bukit Takuruang, Lobang Jepang dan tentunya…the legendary Jam Gadang. Foto-foto panorama alam di Bukittinggi yang pernah saya ambil ini membuat saya teringat akan lukisan-lukisan tanah Minangkabau yang biasanya dipajang di rumah makan Padang.

Hai kebo!

Lokasi Jam Gadang merupakan semacam alun-alunnya Kota Bukittinggi. Jam besar yang dikelilingi taman dan plaza yang cukup luas ini berhadapan dengan Ramayana dan Pasar Atas Bukittinggi. Setiap sore, terutama akhir pekan, lokasi ini pasti ramai luar biasa. Banyak tukang jualan di sana-sini dan juga jasa foto dengan background Jam Gadang. Salah satu keunikan jam yang dibangun sejak jaman kolonial Belanda ini adalah angka 4 Romawinya yang tertulis IIII, bukan IV (mungkin yang buat lupa?).

PS: Kalau mampir ke Jam Gadang, jangan terlewat untuk cobain Es Cendol Durian yang maknyus! ๐Ÿ™‚

Jam Gadang ikon Kota Bukittinggi
Es cendol durian khas Bukittinggi

Danau Maninjau

Sekiranya 35 kilometer ke arah Barat dari Kota Bukittinggi adalah sebuah kabupaten yang berbukit-bukit dan luar biasa indah. Namanya Kabupaten Agam. Di sinilah saya pertama kali melihat karya Allah yang luar biasa berupa danau besar. Yap, Danau Maninjau yang luar biasa cantik apabila dilihat dari puncak bukit di sekelilingnya, khususnya dari Puncak Lawang.

Danau Maninjau – tampak atas dari Puncak Lawang

Seperti kebanyakan danau-danau besar di Indonesia dan Sumatra khususnya, Danau Maninjau merupakan danau vulkanik. Danau ini terbentuk karena letusan gunung berapi entah beribu, berpuluh ribu atau bahkan jutaan tahun yang lalu. Rasanya tidak sia-sia perjalanan penuh deg-degan melewati sadisnya liku-liku Kelok 44 yang mana tiap sudutnya saja sudah dipajang Asmaul Husna. Fiuh… Danau Maninjau ini cantik! (khususnya dalam kondisi cerah dan tidak berkabut).

Danau Maninjau – dari sebuah restoran di tepiannya

See you again dear, West Sumatra! ๐Ÿ™‚

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Terkesima Memandang Bentang Alam Payakumbuh dan Bukittinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s